Hikayat Iblis (2)

Dialog Iblis
Hikayat Iblis
KISAH IBLIS SEBAGAIMANA YANG DICERITAKAN RASULULLAH SAW.

Lanjutan dari bagian (1)

Iblis menjawab . . .
Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam sholatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan sholat tersebut. Kalau dalam sholat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia sholat sendirian, maka saya perintah untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan sholat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan sholat berjamaah, maka saya kalungkan rantai dilehernya. Ketika ia sedang ruku' saya tarik kepalanya ke atas sebelum imam bangun dari ruku' dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang melakukan sholat seperti itu, maka batal sholatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyain kepalanya dengan kepala keledai. Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari-jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang sholat, karenanya ia termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang sholat. Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang sholat. Kalau ia tidak menutup mulutnya dengan tangannya maka setan masuk ke dalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku.

Bagaimana ummatmu akan bisa bahagia wahai Muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan sholat, dan saya berkata kepadanya, 'Sholat bukalah kewajiban kalian , sholat hanya kewajiban orang-orang yang di beri nikmat oleh Allah. 'Saya pun berkata kepada orang yang sakit, 'Tinggalkan sholat, karena sholat bukanlah kewajibanmu. Sholat hanyalah kewajiban orang-orang yang di beri nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, '...dan tidak apa-apa bagi orang yang sedang sakit...' (Q.S. an-Nur: 61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan sholat.' Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan sholat ketika sedang sakit, maka ia bertemu Allah dengan dimurkai.

Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam?"

Kemudian Rasulullah saw. meneruskan pertanyaannya, "Wahai makhluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu?"

"Orang-orang yang suka makan riba," jawab iblis.

"Lalu siapa teman dekatmu?" tanya Rasulullah saw.

"Orang yang berzina," jawabnya.

"Siapa teman tidurmu?" tanya Rasulullah saw.

"Orang yang mabuk," jawabnya.

"Siapa tamumu?" tanya Rasulullah saw.

"Pencuri," jawabnya.

"Siapa utusanmu?" tanya Rasulullah saw.

"Tukang sihir," jawabnya.

"Apa yang menyenangkan pandangan matamu?" tanya Rasulullah saw.

"Orang yang bersumpah dengan talak," jawab iblis.

"Siapa kekasihmu?" tanya Rasulullah saw.

"Orang yang meninggalkan solat jum'at," jawabnya.

"Wahai makhluk yang terkutuk, apa yang menyebabkan punggungmu patah?" tanya Rasulullah saw.

"Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah," jawabnya.

"Apa yang menjadikan tubuhmu meleleh?" tanya Rasulullah saw.

"Tobatnya orang yang bertobat," jawabnya.

"Apa yang membuat hatimu panas?" tanya Rasulullah saw.

"Banyaknya istighfar kepada Allah, baik di malam atau siang hari," jawabnya.

"Apa yang membuatmu merasa malu dan hina?" tanya Rasulullah saw.

"Sedekah secara rahasia," jawabnya.

"Apa yang menjadikan matamu buta?" tanya Rasulullah saw.

"Sholat di waktu sahur," jawabnya.

"Apa yang dapat mengendalikan kepalamu?" tanya Rasulullah saw.

"Memperbanyak sholat berjamaah," tuturnya.

"Siapa orang yang paling bisa membahagiakanmu?" tanya Rasulullah saw.

"Orang yang sengaja meninggalkan sholat," tuturnya.

"Siapa orang yang paling celaka menurut engkau?" tanya Rasulullah saw.

"Orang-orang yang kikir," jawabnya.

"Apa yang menyita pekerjaanmu?" tanya Rasulullah saw.

"Majelis orang-orang alim," jawabnya.

"Bagaimana cara engkau makan?" tanya Rasulullah saw.

"Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku," jawabnya.

"Di mana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu di waktu panas?" tanya Rasulullah saw.

"Di bawah kuku manusia," jawab iblis.

"Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu?" tanya Rasulullah saw.

"Sepuluh macam," jawabnya.

"Apa saja itu wahai makhluk terkutuk?" tanya Rasulullah saw.

Iblis pun menjawabnya, "Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Tuhan mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka."
Itulah maksud firman Allah:

وَشَارِكْهُمْ فِي الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُوْرًا [الإسراء: ٦٤]

'Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.' (Q.S. al-Isra': 64).

Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya."
Itulah maksud firman Allah:

وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ [الاسراء: ٦٤]

'Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki.' (Q.S. al-Isra: 64).

Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya masjid menjadi masjidku. Saya memohon kepada agar saya punya al-Qur'an, maka syair adalah al-Qur'anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku.Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. - ia kemudian membaca firman Allah, 'Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.' (Q.S. al-Isra': 27)."

Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu."

Lalu iblis berkata lagi, "Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa berjalan ke mana pun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimana pun. Kalau saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku, 'Engkau bisa melakukan apa saja yang kau minta.' Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada orang yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari Kiamat.

Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan sholat Atamah (Isya'). Andaikan tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan sholat. Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan di tengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahalanya. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Saya punya anak lagi yang saya beri nama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkhutbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikit pun untuk selamanya.

Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya, 'Keluarkan tanganmu.' Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.

Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat syahadat, 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya.' Tidak akan ada lagi orang yang sholat dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak untuk memberikan hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Tuhan. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (hujjah) Tuhan terhadap makhluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya telah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya."

Kemudian Rasulullah saw. membacakan firman Allah swt:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ. إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ [هود: ١١٨-١١٩]

"jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu." (Q.S. Hud: 118-119).

Kemudian beliau saw. melanjutkan dengan firman Allah swt. yang lain:

وَكَانَ أَمْرُ اللهِ قَدَرًا مَقْدُوْرًا [الأحزاب: ٣٨]

"Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku." (Q.S. al-Ahzab: 38).

Lantas Rasulullah saw. berkata lagi kepada iblis, "Wahai Abu Murrah (iblis), apakah engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga."

Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari Kiamat nanti. Maka Mahasuci Tuhan Yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan khatib para penduduk surga. Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Saya adalah makhluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya."

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, awal dan akhir, dhahir dan batin. Dan semoga shalawat dan salam sejahtera tetap diberikan kapada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan para Nabi.

Tamat.

--------

Lihat sebelumnya, (bagian 1)

Dipetik dari buku Misteri Kun, terjemah kitab Syajaratul-Kaun wa Hikayatu iblis, karya Sufi agung, Syaikhul Akbar, Sayyidi Syekh Muhyiddin Ibnu 'Arabi ra. (w.638 H)

Hikayat Iblis (1)

Dialog Iblis
Hikayat Iblis
KISAH IBLIS SEBAGAIMANA YANG DICERITAKAN RASULULLAH SAW.

بسم الله الرّحمٰن الرّحيم

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam sejahtera semoga senantiasa dilimpahkan kepada seorang Nabi yang Ummi, Sayyidina Muhammad saw., dan kepada keluarganya yang bersih serta seluruh sahabatnya yang mulia.

Diriwayatkan dari Sayyidina Mu'adz bin Jabal ra., dari Sayyidina Ibnu Abbas ra. yang berkisah: Kami bersama Rasulullah saw. dirumah salah seorang sahabat Anshar, dimana saat itu kami di tengah-tengah jamaah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar, "Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku."

Rasulullah saw. bertanya kepada para jamaah, "Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu?"

Mereka menjawab, "Tentu Allah swt. dan Rasul-Nya lebih tahu."

Lalu Rasulullah saw. menjelaskan, "Ini adalah iblis yang terkutuk-semoga Allah swt. senantiasa melaknatnya."

Kemudian Sayyidina Umar ra. meminta izin kepada Rasulullah saw. sembari berkata, "Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?"

Beliau saw. menjawab, "Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari Kiamat)?
Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintah untuk datang kesini, maka pahamilah apa yang ia ucapkan dan dengarkanlah apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian."

Sayyidina Ibnu Abbas ra. berkata: Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk di tengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah ke atas (tidak kesamping). Sedang kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau. Ia datang sambil memberi salam. "Assalamu 'alaika ya Muhammad, Assalamu 'alaikum ya jamaa'atal-muslimin," kata iblis.

Nabi saw. menjawab, "Assalamu lillah ya la'iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apakah keperluan tersebut wahai iblis?"

"Wahai Muhammad, saya datang kesini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang ke sini karena terpaksa," tutur iblis.

"Apa yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai makhluk terkutuk?" tanya Rasulullah saw.

Iblis menjawab, "Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Maha Agung, dimana utusan itu berkata kepadaku, 'Sesungguhnya Allah swt. memerintahkanmu untuk datang kepada Muhammad saw., sementara engkau adalah makhluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaiman engkau menggoda dan merekayasa anak-cucu Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad saw. dengan jujur. Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah swt, jika engkau menjawabnya dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah swt. jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang.' Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawabnya dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku."

Rasulullah saw. memulai melemparkan pertanyaan kepada iblis, "Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci?"

Iblis menjawab dengan jujur, "Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu."

"Lalu siapa lagi yang paling engkau benci?" tanya Rasulullah saw.

"Seorang pemuda yang bertakwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah swt.," jawab iblis.

"Siapa lagi?" tanya Rasulullah saw.

"Orang alim yang wara' (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar," jawab iblis.

"Siapa lagi?" tanya Rasulullah saw.

"Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, hadats kecil dan najis;pent.)," tutur iblis.

"Siapa lagi?" tanya Rasulullah saw.

"Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluh penderitaan yang dialaminya." jawab iblis.

"Lalu dari mana engkau tahu kalau ia bersabar?" tanya Rasulullah saw.

"Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada makhluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah swt. tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar," jelas iblis.

"Lalu siapa lagi wahai iblis?" tanya Rasulullah saw.

"Orang kaya yang bersyukur," tutur iblis.

"Lalu apa yang bisa memberi tahu kepadamu, bahwa ia bersyukur?" tanya Rasulullah saw.

"Bila saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya," tutur iblis.

"Bagaimana kondisimu apabila umatku menjalankan shalat?" tanya Rasulullah saw.

"Wahai Muhammad, saya langsung merasa gelisah dan gemetar," jawab iblis.

"Mengapa wahai makhluk yang terkutuk?" tanya Rasulullah saw.

"Sesungguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah swt. sekali sujud, maka Allah swt. akan mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila membaca al-Qur'an, maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan oleh api. Apabila bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua," jawab iblis.

"Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis)?" tanya Rasulullah saw.

"Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan: Dengan sedekah itu, Allah swt. akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan ia disenangi di kalangan makhluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah swt. akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit," tutur iblis menjelaskan.

"Lalu bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?" tanya Rasulullah saw.

"Ia sewaktu Jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam," tutur iblis.

"Bagaimana dengan Umar bin Khaththab?" tanya Rasulullah saw.

"Demi Allah, setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya," jawab iblis.

"Bagaimana dengan Utsman?" tanya Rasulullah saw.

"Saya merasa malu terhadap orang yang para malaikat saja malu kepadanya," jawab iblis.

"Lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib?" tanya Rasulullah saw.

"Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu sama sekali," tutur iblis.

"Segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakakanmu sampai pada waktu yang ditentukan," tutur Rasulullah saw.

"Tidak dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia sementara saya senantiasa hidup dan tidak akan mati sampai pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummatmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak bisa melihatku. Demi Tuhan Yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca  al-Qur'an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah yang mukhlis (murni)," tutur iblis.

"Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah yang mukhlis itu?" tanya Rasulullah saw.

Iblis menjawab dengan panjang lebar,"Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah swt. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar? Apakah engkau tidak tahu, saya memiliki tujuh puluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuh puluh ribu setan. Di antara mereka ada yang sudah saya tugaskan menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak ada masalah, sedangkan anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Di antara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang zuhud. Mereka keluar-masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apapun. Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetepi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seorang perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir? Inilah yang disebutkan oleh Allah swt. dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيئٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ [الحشر: ١٦]

"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu, 'maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, ' Sesungguhnya aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam." (Q.S. al-Hasyr: 16).

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah orang yang berbohong pertama kali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barang siapa bersumpah atas Nama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku. Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atas Nama Allah, 'Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian berdua.' Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barang siapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan.

Wahai Muhammad, sesungguhnya di antara ummatmu ada orang yang menunda-nunda sholatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan sholat maka saya selalu berada padanya dan mengganggu sembari berkata kepadanya, 'Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan. 'Sehingga ia menunda sholatnya, dan kemudian sholat di luar waktunya. Akibatnya dengan sholat yang dikerjakan di luar waktunya itu ia akan dipukul kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan sholat. Ketika dalam sholatnya saya berkata kepadanya, 'Lihatlah ke kanan dan ke kiri,' Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya, kemudian saya menghadap di depan matanya sembari berkata, 'Engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik selamanya.'

Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam sholatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan sholat tersebut.

Bersambung ke bagian (2) . . .

Dipetik dari buku Misteri Kun, terjemah kitab Syajaratul-Kaun wa Hikayatu iblis, karya Sufi agung, Syaikhul Akbar, Sayyidi Syekh Muhyiddin Ibnu 'Arabi ra. (w.638 H)





Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari (2)

Nahdlatul Ulama
Lanjutan dari bag. ke-1

Metode Dakwah

Dalam mengajak umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah SWT, KH. Hasyim Asy’ari menggunakan metode dakwah yang diajarkan oleh Rosulullah SAW dan termaktub dalam kitab suci al-Qur’an (QS. An-Nahl : 125). Pertama, dengan jalan bil Hikmah, artinya berusaha menyusun dan mengatur dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempatnya serta tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Kedua, dengan metode Mau’idhatul Hasanah, yakni melalui ungkapan-ungkapan yang mengandung bimbingan, pengasuhan, pendidikan dan keteladanan, sehingga pesan-pesan yang disampaikan bias digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan. Ketiga, dengan jalan al-Mujadalah billati Hiya Ahsan, yakni; dilakukan dengan dialog dan diskusi yang argumentatif dan penuh dengan kesopanan, serta disesuaikan dengan kadar tingkatan pemahaman obyek dakwah yang dihadapi. (Khoirul Huda Basyir ; 2008).

Selain berdakwah didalam Pesantren, KH. Hasyim Asy’ari juga berdakwah diluar pesantren seperti keaktifannya di sebuah organisasi, misalnya keaktifan beliau dalam organisasi Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedangan) yang didirikan pada tahun 1918. Atau beliau juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Salah satu preman yang diinsyafkan dengan sifat arif dan kedermawanan KH. Hasyim Asy’ari melalui dakwahnya adalah Marto Lemu.

KH. Hasyim Asy’ari merupakan sosok ulama yang dermawan. Saking dermawannya, jika ada santri yang sakit dan diketahuinya, maka beliau akan membiayai semua pengobatannya hingga sembuh tanpa meminta ganti rugi sepeserpun.

KH. Hasyim Asy’ari sangat arif dalam menghadapi suatu permasalahan. Beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun beliau juga tidak tinggal diam jika kezaliman merajalela. Kedua konsep ini diamalkan KH. Hasyim Asy’ari sesuai dengan proporsinya.
Ketika Pesantren Tebuireng menghadapi tantangan dari orang-orang jahat yang tidak suka dengan keberadaan dakwah yang sedang dikembangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari, beliau tidak tinggal diam. Sebab, santri-santri beliau sering terkena teror. Bahkan pesantrennya pernah didatangi oleh preman sambil membawa senjata. Sehingga, kejadian ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang harus segera diambil solusinya.

Akhirnya untuk mengatasi problem ini, KH. Hasyim Asy’ari menyuruh beberapa santrinya untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat guna menemui para kiai yang ahli pencak silat agar berkenan mengajari ilmu beladiri kepada santri Tebuireng untuk menghadapi tantangan preman dan penjahat yang mengganggu kesinambungan dakwah KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Kiai-kiai yang diundang ke Pesantren Tebuireng adalah Kiai Sholeh Benda, Kiai Abdullah Pangulangan, Kiai Syamsuri Wanalala dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Setelah murid-murid KH. Hasyim Asy’ari sudah bisa ilmu bela diri, teror yang dilancarkan oleh para penjahat dan preman Tebuireng bisa diminimalisir.

Meslipun teror telah mampu diminimalisir, namun upaya untuk menghentikan dakwah KH. Hasyim Asy’ari tidak berhenti sampai disitu. Mereka membuat cara lain dengan melempar fitnah yang disusupkan di Pesantren Tebuireng. Dari fitnah ini, pemerintah Belanda mendatangi KH. Hasyim Asy’ari dan memberikan konsekuensi yang memojokkan beliau dan santri-santrinya. Dampak dari fitnah ini menyebabakan Pesantren Tebuireng dibakar para preman yang tergabung dari beberapa daerah dan mendapat dukungan dari pemerintah Belanda. Namun dengan penuh kesabaran, KH. Hasyim Asy’ari tidak membalas kejahatan itu dengan kejahatan pula. Akhirnya, Pesantren Tebuireng dibangun kembali oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan para santrinya.

Dalam mengahadapi orang diluar Islam, KH. Hasyim Asy’ari berdiskusi dengan baik dan santun jika mereka mengajak berdiskusi. Beliau pernah berdiskusi dengan Karl von Smith, seorang berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk kepentingan pemerintah Belanda. Setelah banyak berdiskusi dengan KH. Hasyim Asy’ari, Karl von Smith ini argumennya terkalahkan. Akhirnya, Karl von Smith memeluk agama Islam atas jasa KH. Hasyim Asy’ari.

Fiqhu ad-Dakwah (guidance and counseling) atau Fiqih Sosial selalu ditanamkan KH. Hasyim Asy’ari untuk menghadapi subyek yang masuk kategori umat dakwah. Pernah suatu ketika, KH. Hasyim Asy’ari menerima tamu orang Belanda, yaitu Ch. O. Van der Plas yang membawa anjing di Pesantren Tebuireng. Namun, karena Fiqih Sosialnya yang tinggi, KH. Hasyim Asy’ari tidak melarangnya.

Rois Akbar Nahdlatul Ulama’

Sebelum Nahdlatul Ulama lahir, terlebih dahulu ada beberapa  organisasi atau sebuah perkumpulan yang menjadi cikal bakalnya. Seperti lahirnya Taswirul Afkar (Potret Pemikiran) yang didirikan pada tahun 1914, Nahdlatut Wathon (Kebangkitan Tanah Air) yang didirikan pada tahun 1916, dan Komite Hijaz (1925). Perkumpulan-perkumpulan ini tidak bisa lepas dari idenya KH. Wahab Hasbullah yang dikenal sebagai penggerak lahirnya Nahdlatul Ulama.

Ketika KH. Wahab Hasbullah mengungkapkan keinginannya kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi keagamaan, KH. Hasyim Asy’ari tidak langsung mengiyakan. Akan tetapi, KH. Hasyim Asy’ari berfikir dengan sedalam-dalamnya karena beliau takut akan memecah belah umat Islam yang ada di Indonesia. Sebab di waktu itu, di Indonesia sudah ada organisasi keislaman seperti SI (Sarekat Islam) yang didirikan oleh HOS. Cokroaminoto, al-Irsyad yang didirikan oleh Ahmad Surkati dan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Selain organisasi keagamaan ini, juga sudah ada organisasi “Budi Utomo”. Kebanyakan orang yang berada di dalam tubuh Budi Utomo adalah beragama Islam, namun arus pemikirannya bersifat nasionalis (priyayi).

KH. Wahab Hasbullah terus meyakinkan kepada KH. Hasyim Asy’ari akan pentingnya sebuah organisasi keagamaan yang nantinya akan dikendarai oleh kiai-kiai pesantren yang notabene mengamalkan Islam dengan menganut salah satu madzhab empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Pasalnya, organisasi milik Islam Modernis seperti SI, Muhammadiyah dan al-Irsyad itu kebanyakan menyuarakan agar umat Islam tidak bertaklid kepada salah satu madzhab empat. Mereka juga sering mengkritik sebagian amalan yang dikerjakan oleh kelompok Islam Tradisionalis.

Pada tahun 1922 M telah terjadi diskusi ilmiah antara tokoh Islam Modernis dan tokoh Islam Tradisionalis yang tergabung di dalam Kongres al-Islam yang di adakan di Cirebon, Jawa Barat dengan pimpinan HOS. Cokroaminoto yang dibantu oleh H. Agus Salim. Perdebatan ini berlangsung dari tanggal 31 Oktober hingga 2 November 1922 M. Kelompok Islam Modernis diwakili oleh organisasi Muhammadiyah dan al-Irsyad dengan juru bicaranya KH. Ahmad Dahlan dan Syekh Ahmad Surkati. Sedangkan untuk kelompok Islam Tradisionalis diwakili oleh klan pesantren dengan juru bicaranya KH. Wahab Hasbullah dan KH. Raden Asnawi Kudus. Islam modernis menuduh Islam Tradisionalis sebagai biang keladi atas kemunduran Islam sebab mengamalkan Islam dengan memakai metode madzhab tertentu. Sedangkan kelompok Islam Tradisionalis menuding kelompok Islam Modernis ingin membuat madzhab baru dengan menafsirkan al-Qur’an dengan semau mereka sendiri. Diskusi ini berlangsung dengan sengit dan tidak bias menyatukan kedua kubu.

Meskipun Islam Tradisionalis sering dipojokkan oleh Islam Modernis yang sudah mempunyai jam’iyyah yang matang dan terorganisir, namun KH. Hasyim Asy’ari masih belum mau tergesa-gesa dalam menentukan keputusannya untuk mendirikan sebuah organisasi keagamaan. Beliau selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan jalan yang terbaik atas semua ini. Shalat Istikharah selalu dikerjakannya agar Allah SWT menurunkan petunjuk-Nya untuk menghilangkan masalah rumit yang menerpanya.

Keresahan yang dihadapi oleh KH. Hasyim Asy’ari telah dirasakan oleh gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan yang terkenal dengan kewaskitaannya. Syaikhona Kholil tidak tinggal diam atas masalah yang menerpa santri-santrinya, terlebih KH. Hasyim Asy’ari. Akhirnya, Syaikhona Kholil menyuruh salah satu santrinya yang bernama KH. As'ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat dan membacakan surat Thoha ayat 17-23 kepada KH. Hasyim Asy’ari sebagai isyarat bahwa beliau meridhai keinginan KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi keagamaan. Dalam al-Qur’an surat Thoha Allah SWT berfirman, yang artinya kurang lebih demikian:

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkatalah Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya,” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.” Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.” (QS. Thoha : 17-23).

Meskipun sudah mendapatkan petunjuk lewat Syaikhona Kholil Bangkalan berupa tongkat dan bacaan surat Thoha ayat 17-23, KH. Hasyim Asy’ari tak kunjung mendirikan organisasi yang diusulkan oleh KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari sudah menagkap isyarat lampu hijau bahwa jam’iyyah yang hendak didirikan itu telah mendapat restu dari gurunya. Berkat petunjuk Allah SWT lewat perantara Syaikhona Kholil, beliau dan para kiai lain, terlebih KH. Wahab Hasbullah semakin mantap dan konsepnya pun semakin dimatangkan oleh KH. Wahab Hasbullah selaku  motor organisasi. Akan tetapi, dalam masalah ini, KH. Hasyim Asy’ari masih belum berani mengetuk palu untuk mengiyakan sepenuhnya. Beliau sangat berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara. Terlebih hal ini ada kaitannya dengan persatuan umat Islam. Beliau selalu mengerjakan sholat Istikharoh agar diberikan petunjuk yang terbaik dari Allah SWT.

Karena KH. Hasyim Asy’ari tidak segera merespon makna sepenuhnya dari pesan yang diberikan oleh Syaikhona Kholil, akhirnya Syaikhona Kholil menyuruh kembali KH. As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan pesan kedua yang mengandung isyarat keridhaannya kepada KH. Hasyim Asy’ari dalam mendirikan organisasi keagamaan sebagaimana isyarat yang pertama. Pesan itu berupa tasbih dan perintah agar KH. Hasyim Asy’ari mengamalkan asma’ ya Qohhar dan ya Jabbar. Kedua Asma Allah ini memiliki arti hampir sama. Qohhar berarti Maha Memaksa (kehendak-Nya pasti terjadi, tidak bias dihalang-halangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, akan tetapi sebagian ada orang yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa  dihalangi / dikalahkan oleh siapapun).

Dengan adanya isyarat kedua dari gurunya, KH. Hasyim Asy’ari menjadi semakin mantap untuk mendirikan organisasi keagamaan yang diusulkan oleh KH. Wahab Hasbullah. Namun, KH. Hasyim Asy’ari masih sangat berhati-hati dan semakin mematangkan konsepnya. Hingga akhirnya Syaikhona Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M), organisasi keagamaan ini belum kunjung didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Sebelum tahun wafatnya Syaikhona Kholil, tepatnya pada tahun 1924 telah terjadi peristiwa yang menggemparkan umat Islam di belahan dunia. Yaitu, peristiwa jatuhnya Syarief Husein yang digulingkan oleh Abdul Aziz bin Sa’ud yang merupakan pengikut aliran Wahhabi yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dengan jatuhnya Syarief Husein, hal ini membuat kekhawatiran bagi umat Islam yang beraliran Sunni. Sebab, kaum Wahhabi ini sangat anti madzhab dan gencar memberantas system bermadzhab. Wahhabi berbeda dengan Sunni yang menyuruh umat Islam untuk mengikuti salah satu madzhab empat dengan alasan supaya didalam memahami hukum Islam tidak terjadi kesalahan yang fatal.
Disamping itu, keresahan umat Islam yang beraliran Sunni juga semakin bertambah dengan jatuhnya Hijaz ke tangan Wahhabi. Pasalnya dengan dalih ingin mengembalikan umat Islam kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka sangat bernafsu menghilangkan tawassul, tabarruk, maulid dan lain sebagainya. Bahkan, ada wacana kalau amalan-amalan ini nantinya akan dilarang di tanah Hijaz yang menjadi kekuasaan Raja Ibnu Sa’ud.

Untuk melebarkan sayap pengaruhnya hingga ke negara-negara muslim lainnya, pada Juni 1926, Ibnu Sa’ud berencana menyelenggarakan Muktamar Khilafah sedunia yang bertempat di kota suci Mekkah yang bertujuan sebagai penerus khilafah yang terputus. Negara Indonesia termasuk salah satu negara yang mendapat kehormatan untuk menghadirinya.

Utusan resmi dari Negara Indonesia yang akan dikirim untuk menghadiri Muktamar Khilafah di kota suci Mekkah adalah HOS. Cokroaminoto (Sarekat Islam) dan KH. Mas Mansur (Muhammadiyah). Kedua tokoh ini akan disertai oleh H. Abdul Karim Amrullah (utusan dari Persatuan Guru Agama Islam), H. Abdullah Ahmad (pendiri Sekolah Adabiyah dari Sumatera Barat) dan H. M. Soeja’. Semua anggota ini berangkat atas nama organisasi CCC (Central Comite Chilafah) yang anggotanya terdiri dari beberapa organisasi resmi.

Mulanya, KH. Wahab Hasbullah ikut daftar yang akan mewakili pesantren, namun akhirnya namanya dicoret karena alasan tidak mewakili organisasi resmi. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi golongan Islam Tradisionalis. Akhirnya, atas restu KH. Hasyim Asy’ari dibentuklah Komite Hijaz sebelum bulan Januari 1926.

Bersambung ke bagian 3.

Dikutip dari buku The Founding Father's Of Nahdlatoel Oelama'



Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari

Pendiri NU
KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri NU
Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap dan dilucuti oleh tentara Belanda, para prajuritnya yang dahulu bermarkas di Goa Selarong melarikan diri dan tersebar di berbagai kawasan pulau Jawa. Ada yang ke Semarang, seperti Kiai Umar yang menurunkan Kiai Sholeh Darat. Ada yang ke Rembang, seperti Mbah Saman bin Yaman (asal Madura) yang memperjuangkan Islam di daerah Sarang, Rembang. Ada yang ke daerah Yogyakarta seperti Kiai Hasan Besari yang menurunkan Kiai Munawwir Krapyak. Ada yang ke Jombang seperti Mbah Shihah atau Kiai Abdussalam (Lasem, Rembang) yang menurunkan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbbullah. Kedua ulama yang terakhir ini, nantinya yang akan menjadi tokoh utama dalam berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keislaman terbesar di  Indonesia

Garis Keturunan

Secara genealogis, KH. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan ulama yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, terlebih pulau Jawa. Ayahnya, Kiai Asy’ari masih keturunan Raden Ainul Yaqin atau Sunan Giri. Sedangkan ibunya masih mempunyai hubungan darah dengan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang pertama. Sehingga, dari kedua nasab ini, bias diambil kesimpulan bahwa KH. Hasyim Asy’ari masih mempunyai jalur keturunan yang bersambung dengan Rosulullah SAW.

Sebelum KH. Hasyim Asy’ari lahir, tanda-tanda yang menunjukkan kelak dirinya akan menjadi orang besar dan berpengaruh telah dirasakan oleh ibunya saat mengandung. Nyai Halimah (Ibu KH. Hasyim Asy’ari) bermimpi melihat rembulan yang jatuh dari langit dan mengenai kandungannya. Mimpi ini ditafsirkan, kelak bayinya akan menjadi orang yang berpengaruh.
KH. Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H / 14 Februari 1871 M di Desa Gedang, Jombang dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Nama kecilnya adalah Muhammad Hasyim yang kemudian kelak dikenal dengan KH. Hasyim Asy’ari atau Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Riwayat Pendidikan

KH. Hasyim Asy’ari pertama kali memperoleh pendidikan ilmu agama dari kedua orang tua dan kakeknya. Ayah dan kakeknya ini merupakan seorang ulama yang menjadi pengasuh pesantren. Ayahnya, Kiai Asy’ari mengasuh Pesantren Keras, sedangkan kakeknya, Kiai Utsman mengasuh Pesantren Gedang. Dari lingkungan yang ala pesantren inilah pelajaran Islam mudah tertanam pada diri KH. Hasyim Asy’ari dengan baik.

Sejak kecil, KH. Hasyim Asy’ari sudah menonjol dengan kecerdasannya. Ketika berumur 13 tahun, beliau sudah pernah disuruh untuk membadali (mengganti) ayahnya dalam mengajar saat ayahnya berhalangan. Meskipun usia penggajar lebih muda dari pada pihak yang diajar, namun hal semacam ini bukanlah perkara yang tabu dalam dunia pesantren karena barometer yang dikenal dalam kamus pesantren adalah kualitas keilmuan, bukan usia.

Menginjak usia ke-15, KH. Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya ke beberapa pesantren yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Jawa Timur, KH. Hasyim Asy’ari belajar di Pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Kademangan (asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan) dan Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo (asuhan Kiai Ya’kub). Sedangkan di Jawa Tengah, KH. Hasyim Asy’ari pernah nyantri di Pesantren Kiai Sholeh Darat Semarang bersama dengan Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) yang kelak mendirikan organisasi Muhammadiyah. Selain itu, beliau juga pernah mengaji kepada Kiai Syu’aib bin Abdurrozak (buyut KH. Maimun Zubair) di Pesantren Sarang Rembang. (Gus Bahak ; 2002).

Kiai Syu’aib ini dikenal sebagai ulama sufi yang mempunyai banyak karomah. Di waktu itu, Kiai Syu’aib sering dijadikan tempat berlabuh dan bertabarruk untuk mencari ilmu bagi para santri salaf. Biasanya mereka mengaji dengan Kiai Syu’aib ketika di bulan Ramadhan. Istilah belajar di bulan Ramadhan di suatu pesantren tertentu sering di sebut dengan “Ngaji Posonan

Saat menjadi santri, KH. Hasyim Asy’ari selalu menjunjung tinggi dan menghormati ahlul-‘ilmi wa ahlihi (kiai dan keluarganya). Sebab, menghormati ulama dan keluarganya termasuk syarat agar ilmu seseorang bermanfaat dan berkah. Sikap ini tampak ketika cincin Ibu Nyai Asik, istri Syaikhona Kholil Bangkalan terjatuh ke dalam tempat yang penuh dengan tinja (kotoran manusia). Saat santri-santri lainnya di kala itu enggan mengambilkan cincin tersebut karena takut dan merasa jijik dengan kotoran tersebut, KH. Hasyim Asy’ari tidak menghiraukannya. Tanpa berfikir panjang, beliau mengambil dan membersihkannya, kemudian memberikannya kepada Nyai Kholil sehingga istri gurunya tersebut merasa bahagia dan kagum dengan sikap yang di miliki oleh beliau.

Dari budi pekerti mulia yang terukir di dalam jiwa KH. Hasyim Asy’ari disertai dengan keilmuan yang mumpuni, hal ini membuat salah satu  guru beliau menjadi tertarik dengannya dan ingin menjadikannya sebagai seorang menantu. Kiai Ya’qub, pengasuh Pesantren Siwalan Panji ingin menikahkan KH. Hasyim Asy’ari dengan putrinya yang bernama Khadijah. Dengan penuh ketaatan, KH. Hasyim Asy’ari menerima dawuh (titah) Kiai Ya’qub.

Pernikahan bagi KH. Hasyim Asy’ari tidaklah menyurutkan niatnya untuk melanjutkan menuntut ilmu. Atas saran mertuanya, KH. Hasyim Asy’ari dan istrinya berencana menunaikan ibadah haji ke tanah suci sembari belajar di sana kepada ulama-ulama Haramain (Mekkah dan Madinah). Biaya keberangkatan KH. Hasyim Asy’ari dan istrinya ini ditanggung oleh mertuanya.

Selama di Haramain, KH. Hasyim Asy’ari mendapat ujian berat dari Allah SWT. Istri tercintanya meninggal dunia di tanah suci Makkah setelah melahirkan anak pertamanya yang bernama Abdullah. Selang sekitar 40 hari kemudian, Abdullah menyusul ibunya. Kebersamaan KH. Hasyim Asy’ari dengan istrinya selama di Makkah berlangsung kurang lebih selama tujuh bulan dan beliau pulang ke tanah air setelah itu.

Merasa merasa haus dengan keilmuan, dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1893, KH. Hasyim Asy’ari bersama dengan adiknya yang bernama Anis berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu guna mematangkan pendalaman ilmu agamanya di tanah suci. Pada kepergian kedua ini, KH. Hasyim Asy’ari juga diuji Allah SWT dengan ujian yang hamper sama dengan keberangkatan sebelumnya, adik kandung yang menyertainya bernasib sama dengan istrinya dan meninggal dunia di sana.

Meskipun ditinggal wafat oleh adiknya, KH. Hasyim Asy’ari untuk kali ini bertekad ingin lebih lama belajar di Mekkah dibanding kesempatan sebelumnya disaat istrinya meninggal. Beliau bermukim di Mekkah untuk menuntut ilmu sekitar tujuh tahun, bahkan ada yang mengatakan lebih.
Selama di Mekkah, KH. Hasyim Asy’ari mempelajari berbagai macam cabang ilmu agama kepada beberapa ulama yang bermukim di Mekkah. Beliau belajar kepada Syaikh Mahfudz at-Turmusi (ulama asal Termas, Pacitan, Lamongan Jawa Timur), Syaikh Amin al-Atthar, Sayyid Sulthan bin Hasyim, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthar, Syaikh Sayyid Yamani, Sayyid Alawi bin Ahmad as-Segaf, Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Abdullah az-Zawawi, Syaikh Sholeh Bafadhol, Syaikh Sulthan Hasyim Dagastani  dan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (ulama asal Minagkabau, Sumatera Barat) dan lain-lain.

Dari sekian banyak cabang ilmu yang dipelajari oleh KH. Hasyim Asy’ari, ilmu hadits-lah yang paling menonjol dalam dirinya. Sehingga, kelak Pesantren Tebuireng yang diasuhnya lebih terkenal dengan kajian hadits karena karakter pengasuhnya yang ahli hadits. Mengenai ketertarikannya dengan ilmu hadits ini, KH. Hasyim Asy’ari pernah menulis alasannya di sebuah kertas yang terselip di kitab yang ada di perpustakaan pribadinya.

KH. Hasyim Asy’ari mempelajari Hadits Bukhori dan Muslim dari  Syaikh Mahfudz at-Turmusi, seorang pakar Hadits asal Indonesia yang bermukim di Mekkah. Syaikh Mahfudz at-Turmusi ini merupakan generasi terakhir dari 23 generasi yang mendapatkan ijazah langsung dari Imam Bukhori. Dari Syaikh Mahfudz at-Turmusi inilah, beliau kemudian memperoleh ijazah kitab Shohih Bukhori.
Selain mendalami ilmu agama, KH. Hasyim Asy’ari juga sering napak tilas (tabarukan) ke berbagai tempat bersejarah yang pernah didiami oleh Rosulullah SAW. Beliau sering berkhalwat di Goa Hiro, tempat Rosulullah SAW menerima wahyu pertama. Beliau juga sering berziarah ke makam Rosulullah SAW.

Menjelang kembali ke tanah air, KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa orang temannya yang berasal dari berbagai negara beikrar disisi Ka’bah untuk bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan agama Allah SWT. Kisah ini sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Gus Ishom, salah satu cucu beliau, dalam salah satu tulisannya.

Mempelajari Ilmu Tarekat

Selain mempelajari ilmu syari’at, KH. Hasyim Asy’ari juga mempelajari ilmu tarekat. Bahkan, beliau pernah mendapatkan ijazah sanad tarekat Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari gurunya, Syaikh Mahfudz at-Turmusi. Syaikh Mahfudz at-Turmusi ini, mendapatkan ijazah sanad tarekat Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari Syaikh Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani (ulama asal Banten) dan Syaikh Nawawi memperoleh silsilah sanad dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas al-Makki (ulama asal Sambas, Kalimantan Barat). Nama yang terakhir inilah yang telah menggabungkan dua tarekat ini, yakni tarekat Qodiriyyah dan Naqsyabandiyyah menjadi satu, sehingga dikenal menjadi Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah.

Meskipun KH. Hasyim Asy’ari pernah mempelajari ilmu tarekat, namun beliau tidak mengizinkan para santrinya yang masih dalam tahap mempelajari ilmu syari’at untuk mengamalkan ilmu tarekat. Hal ini mungkin disebabkan karena beliau tidak suka jika aktifitas belajar santri-santrinya terganggu dengan alas an mengamalkan tarekat. Beda halnya jika ada santrinya yang sudah dianggap matang ilmu syari’atnya, niscaya tidak akan membuat beliau keberatan untuk memberikan izin kepadanya. Tercatat, ada dua murid KH. Hasyim Asy’ari yang menjadi mursyid tarekat, yaitu Kiai Adlan Ali dan Kiai Musta’in Romli.

Dalam menanggapi masalah tarekat, pada tahun 1947, KH. Hasyim Asy’ari pernah menghadiri Muktamar Tarekat Muktabaroh pertama di Madiun. Beliau tidak memberi penjelasan ketidak ikut sertaannya dalam kelompok tarekat tertentu. Meskipun demikian, KH. Hasyim Asy’ari tidak melarang orang lain jika ingin masuk ke dalam sebuah tarekat.

Membina Rumah Tangga

Selama hidupnya, KH. Hasyim Asy’ari pernah menikah lebih dari sekali. Hal ini menunjukkan kedekatan beliau dengan para kiai karena istri-istri beliau merupakan keturunan seorang ulama atau berdarah biru. Di antara istri-istri KH. Hasyim Asy’ari adalah Nyai Khadijah binti Kiai Ya’qub dari Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Nyai Nafisah binti Kiai Romli dari Pesantren Kemuning, Nyai Nafiqoh binti Kiai Ilyas dari Pesantren Sewulan Madiun, Nyai Masruroh binti Kiai Hasan dari Pesantren Kapurejo Pagu Kediri, dan Nyai Amini binti yang merupakan janda Ma’shum yang tidak lain adalah adik dari beliau sendiri.

Dari pernikahannya ini, KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai 14 orang anak. Mereka adalah Andullah, Hannah, Khoiriyyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid (KH. Wahid Hasyim), Abdul Hafidz (KH. Abdul Choliq Hasyim), Abdul Karim (Akarhanaf), Ubaidillah, Masruroh, M. Yusuf (KH. Yusuf Hasyim / Pak Ud), Abdul Qodir, Khodijah (ibu Gus Ishom Hadziq), dan M. Ya’qub.
KH. Hasyim Asy’ari juga mempunyai lima orang anak tiri. Empat orang dari Nyai Amini, yaitu Syarofah, Ali, Nafisah dan Ulyatun. Sedangkan yang satu dari Nyai Masruroh  yang merupakan janda dari Syaikh Ihsan al-Jampes Kediri, pengarang kitab Sirojut-Tholibin, syarah dari Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghozali.

Pesantren Tebuireng

Setelah dirasa cukup menimba ilmu di Makkah, KH. Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air untuk mengamalkan dan menyebarkan ilmunya. Kepulangannya ini disambut gembira oleh Kiai Asy’ari yang mengharapkan nantinya KH. Hasyim Asy’ari akan menjadi penggantinya untuk mengajar di Pesantren Keras. Akan tetapi, KH. Hasyim Asy’ari ingin meluaskan cakrawala keilmuannya. Sebab, bangsa ini masih banyak membutuhkan bimbingan moral. Kalau beliau hanya mengajar di Pesantren Keras atau Gedang saja, niscaya cita-citanya untuk memperluas penyebaran agama Islam kurang begitu luas. Dengan penuh kemantapan, KH. Hasyim Asy’ari bertekad ingin mendirikan pesantren terpisah dari pesantren milik ayah dan kakeknya. Niat KH. Hasyim Asy’ari ini mendapat dukungan dari keluarga, terlebih ayahnya.

Daerah yang menjadi incaran KH. Hasyim Asy’ari bukanlah kawasan yang penduduknya bermoral baik. Beliau lebih suka memilih daerah abangan untuk ‘diputihkan’ dengan syari’at Islam. Akhirnya, pilihan beliau jatuh pada Tebuireng, Jombang yang berdekatan dengan Pabrik Gula Cukir serta dekat dengan rel kereta api.

Daerah Tebuireng ini mulanya penuh dengan gundik, preman dan tukang dadu (judi) serta pernak-perniknya yang selalu gemar melakukan perbuatan maksiat. Hal ini disebabkan karena kedekatannya dengan pabrik gula milik Belanda yang turut meningkatkan perekonomian daerah setempat. Namun, kemajuan itu tentunya bagi orang-orang yang mau bekerja sama dengan penjajah Belanda. Sedangkan warga pribumi yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda, maka perekonomiannya akan ditindas. Banyak lahan yang disewa paksa oleh Belanda dengan upah yang tidak sesuai. Selain itu, moralitas penduduk dicekoki Belanda dengan hiburan-hiburan yang dapat merusak akhlak sehingga kemaksiatan semakin merajalela dimana-mana.

Pada tahun 1317 H / 1899 M, Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan dibekali santri sebanyak delapan orang yang diperintah oleh Kiai Asy’ari untuk menyertai putranya. Lambat laun, santri yang asalnya delapan orang ini cepat berkembang pesat hingga mencapai ratusan orang bahkan sampai ribuan. Semua ini tidak lepas dari sosok KH. Hasyim Asy’ari yang mempunyai kepribadian yang luhur dan keilmuan yang tinggi dalam hal agama Islam.

Ketika dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari, Pesantren Tebuireng menjadi pesantren yang terkenal di pulau Jawa sehingga banyak santri-santri yang berdatangan dari berbagai daerah. Kebanyakan dari mereka kelak akan menjadi ulama besar yang berpengaruh dan mengibarkan bendera Nahdlatul Ulama yang nantinya didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dan para kiai pesantren lainnya. Dari banyaknya santri, Jepang pernah mendata alumni Pesantren Tebuireng di waktu itu sudah mencapai 25.000 orang dan rata-rata menjadi ulama besar. Di antaranya adalah KH. Wahab Hasbullah Tambak Beras, Jombang (Rois ‘Am PBNU pengganti KH. Hasyim Asy’ari), KH. Bisri Syansuri Denanyar, Jombang (Rois ‘Am PBNU pengganti KH. Wahab Hasbullah), KH. Abdul Karim (pendiri Pesantren Lirboyo), KH. Ahmad Shiddiq (Rois ‘Am PBNU pengganti KH. Ali Maksum Krapyak Jogja), dan KH. Ahmad Djazuli Utsman (pendiri PP. Al-Falah Ploso Kediri).

Murid-murid KH. Hasyim Asy’ari kebanyakan adalah para santri yang sudah pernah mondok di suatu pesantren terlebih dahulu. Kedatangan mereka di Pesantren Tebuireng didorong oleh keinginan kuat dalam mematangkan keilmuan di bidang agama agar lebih mendalam. Bahkan, ada salah satu santrinya yang bernama KH. Ahmad bin Syu’aib (kakek KH. Maimoen Zubair) sudah pernah mondok di Mekkah, namun karena masih haus dengan ilmu agama, akhirnya ia belajar lagi kepada KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Kepada KH. Ahmad bin Syu’aib, KH. Hasyim Asy’ari pernah memberikan beberapa kitab yang sudah ada sah-sahannya (ada makna dan keterangannya) yang dicatat beliau ketika masih belajar kepada Syaikh Mahhfudz at-Turmusi.

Dalam mendidik para santri, KH. Hasyim Asy’ari menggunakan metode ala Pesantren Salaf dengan memakai standar kitab-kitab yang berliteratur Arab. Metode sorogan, bandongan, wetonan dan musyawarah diterapkan KH. Hasyim Asy’ari kepada para santrinya. KH. Hasyim Asy’ari sangat teguh memegang tradisi salaf, namun beliau juga tidak menolak hal-hal yang baru asalkan tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Hal ini terbukti beliau juga mempunyai koleksi karya Muhammad Abduh yang merupakan salah satu ulama pembaharu Islam yang pemikirannya banyak berseberangan dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.

Di Pesantrennyaa, KH. Hasyim Asy’ari lebih menekankan pelajaran kitab-kitab salaf, baik kitab matan maupun syarahnya, seperti kitab matan Taqrib, Fathul Qorib al-Mujib dan Kitab Fathul Mu’in. Untuk kitab Taqrib atau kitab Fathul Qorib al-Mujib, KH. Hasyim Asy’ari selalu mengulang-ulang jika sudah dikhatamkan. Tradisi seperti ini banyak diikuti oleh santri-santrinya, salah satunya adalah Kiai Ahmad bin Syu’aib yang menjadi pengasuh Pesantren Sarang Rembang.

Selain menggunakan metode salaf, KH. Hasyim Asy’ari juga menggunakan manhaj kekinian seperti memasukkan metode klasikal yang berasal dari usul menantunya, KH. Ma’shum Ali. Sehingga berdirilah Madrasah Salafiyah yang terdiri dari enam kelas. Selain Madrasah Salafiyah, di Pesantren Tebuireng juga ada Madrasah Nidzamiyah yang diusulkan oleh KH. Wahid Hasyim. Madrasah Nidzamiyah ini selain mengajarkan pelajaran agama Islam, juga mengajarkan pelajaran umum seperti bahasa Belanda, Geografi dan Ilmu Menghitung. Namun, Madrasah Nidzamiyah ini tidak berumur panjang karena KH. Hasyim Asy’ari kurang begitu berkenan. Akhhirnya, murid-murid yang ada di Madrasah Nidzamiyah digabungkan ke dalam Madrasah Salafiyah.

Bersambung ke bagian 2.

Dikutip dari buku The Founding Father's Of Nahdlatoel Oelama'





Ratib Al Atthas & Ratib Al Haddad

dzikir
Sarana Mendekatkan Diri Dengan Sang Pencipta

Diharapkan orang muslim gemar membaca Al Quran dan Kalimah Thayyibah sebagai dzikir, dimana dzikir akan menenangkan jiwa dan berkhasiat. Dalam hal ini umat Islam sangat kaya dengan bacaan-bacaan yang sebagiannya sudah dalam bentuk susunan (paketan) dengan sebutan Aurad, Hizib, Ratib, Adzkar, Thariqat dll (disana terdapat Kalimah Thayyibah dan ayat-ayat Al Quran).
Kalimah Thayyibah (Kalimat yang baik) itu diantaranya Kalimah Tauhid (Laa ilaaha illallaah), Tasbih (Subhaanallah), Tahmid (Alhamdu lillaah), Istighfar (Astaghfirullaah), dan lain sebagainya.
Ratib Al Atthas dan Ratib Al Haddad ini dapat dibaca secara rutin seraya menghadirkan maknanya (dalam hati) sehingga kalimah bersama maknanya akan menyentuh jiwa dan menyatu dengan darah dan daging, maka disana akan didapatkan khasiat-khasiat nyata, sebagaimana komentar Imam Sanusi terhadap Kalimah Thayyibah dalam Al Quran QS. Ibrahim (14):24, dimana beliau berkata: Orang yang berakal haruslah memperbanyak bacaan Kalimah Thayyibah (Laa ilaaha illallah, Subhaanallaah, Alhamdu lillaah, Astaghfirullaah, dll) dengan menghadirkan maknanya di dalam hati hingga kalimat dan maknanya bercampur dengan daging dan darahnya, maka ia akan melihat keajaiban dan rahasia terpendam sejumlah bilangan yang tidak terbatas.
Wallaahu a'lamu bisshowaab

Untuk Anda yang ingin mendengarkan audio kedua rotib tersebut, kami sediakan link download mp3 rotib alatthas dan rotib alhaddad serta hizib nashr dan wirid assakron, silahkan klik dibawah ini semoga bermanfaat.

1. Ratib al-Atthas
2. Ratib al-Haddad
3. Wirid as-Sakron
4. Hizib an-Nashr



Keimanan Kedua Orang Tua Nabi

Kekasih Allah
Ayah dan Ibu Nabi Saw. wafat sebelum Baginda Nabi Saw. diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ini bukan untuk merendahkan Baginda Nabi Saw. Terbukti dengan status yatim pada beliau merupakan suatu penghargaan dari Allah Swt. kepada kedua orang tua beliau. Karena putra mereka langsung berada dalam didikan Allah Swt.

Selain itu jika kedua orang tua Baginda Nabi Saw. masih hidup, niscaya mereka akan hormat dan beriman pada Nabi Saw. Secara keimanan sah-sah saja Nabi memerintah orang tuanya atas nama utusan Allah Swt., namuan secara tidak langsung Baginda Nabi Saw. yang berstatus sebagai anak, memerintah ayah dan ibundanya.

Tertera dalam sebuah hadits, "Baginda Nabi Saw. dilarang memintakan ampunan untuk kedua orang tua beliau." keterangan ini sanadnya dho'if. Demikian juga keterangan yang menyebutkan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw., pernah berziarah ke makam ibunda Aminah, beliau bersabda,"Aku memohon izin kepada Allah Swt. untuk berziarah ke makam ibuku, aku diberi izin. Aku juga memohon izin untuk memanjatkan do'a ampunan untuk ibundaku, akan tetapi aku tidak diberi izin." Dalam riwayat ini juga dikatakan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw. menangis, para sahabatpun juga menangis. Riwayat ini juga dho'if.

Jika hadits ini memang sanadnya sahih, maka perlu dicermati lagi. Karena keterangan itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa ibunda Aminah belum beriman. Namun hadits diatas hanya melarang beliau untuk memanjatkan do'a ampunan untuk ibunda Aminah. Padahal larangan memohonkan ampunan kepada seseorang tidak mesti karena kekufurannya. Fakta telah berbicara bahwa diawal perjalanan Islam, Baginda Nabi Saw. dilarang menyolati seorang jenazah. Karena jenazah itu punya hak adami yang belum dibayar. Singkatnya, setelah ada salah satu sahabat yang bersedia menanggung hutang jenazah tersebut, Baginda Nabi Saw. bersedia mensholatinya. Sudah maklum bahwa inti dalam sholat jenazah adalah memohonkan ampunan untuk jenazah, akan tetapi secara tegas beliau menunjukan bahwa jenazah tersebut tidak disholati hanya karena punya hak adami yang belum terselesaikan, bukan karena kafir. Sehingga tangisan Baginda Nabi Saw. dimakam ibunda Aminah, mungkin karena kesedihan beliau kepada ibunya. Bukan karena ibunda Aminah ada di neraka. Dalam al-Qur'an surat al-Isro' ayat 24 diteegaskan bahwa; "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Ayat diatas menegaskan bahwa setiap orang mukallaf, diperintahkan Allah Swt. untuk memohonkan rahmat kepada kedua orang tua, sebagaimana mereka berdua telah memelihara dan mendidik sang anak sewaktu kecil. Sehingga menjadi keharusan bagi anak untuk memohonkan ampunan untuk ibu dan bapaknya, walaupun hanya satu kali saja. Rahmat diatas berarti rahmat Allah Swt. yang abadi, yakni rahmat di akhirat nanti. Bukan hanya rahmat di dunia saja. Dari ketegasan ayat ini apakah Baginda Nabi Saw. dilarang memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya? Tentu akan sangat ganjil jika dijawab,'ya'. Karena beliau memerintahkan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh beliau. Padahal Baginda Nabi Saw. adalah suri tauladan bagi umatnya. Dan apakah beliau dilarang berdo'a dengan do'a yang ada dalam al-Qur'an?!

Status kafir atau tidak, hanya bisa disandangkan kepada seseorang yang hidup pada zaman Baginda Nabi Saw. setelah bi'tsah (diangkat jadi Rosul) dan setelah sampinya dakwah padanya. Setelah Nabi Saw. diangkat sebagai Nabi dan Rosul, mereka yang menerima dakwah beliau dan membenarkan, maka ia termasuk orang yang beriman. Sebaliknya mereka yang tidak beriman, maka merekalah orang-orang yang ingkar, yang dalam istilahnya dikenal dengan orang kafir.

Dari uraian ini sangatlah jelas bahwa kedua orang tua Nabi Saw. bukanlah orang kafir, sebab mereka wafat saat beliau Nabi Saw. masih kecil. Mereka masih dalam masa fatrah, yakni masa kekosongan dari seorang Rosul. Sementara orang-orang yang mati di masa fatrah ini tidak disiksa. Allah Swt berfirman dalam surat al-Isro' ayat 85 yang artinya kurang lebih demikian: "Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rosul." (QS. al-Isro':85)

Ayat diatas menegaskan bahwa Allah Swt, tidak akan menyiksa seseorang sampai mengutus seorang utusan. Sehingga mustahil Allah Swt menyiksa orang-orang yang mati sebelum masa kenabian.

Salah satu permasalahan yang bisa memperkuat argumen diatas adalah anak kecil dari orang kafir tidak disiksa. Lalu apakah mereka yang tidak menjumpai kerosulan Baginda Nabi Saw. akan disiksa?. Jawabnya tentu tidak.

Ibunda Aminah berkata,"...Jika apa yang aku lihat dalam tidurku kebenaran, niscaya engkau kelak akan menjadi seorang utusan Allah, Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Agung. Engkau akan diutus di daerah halal dan daerah haram."

Kalau kita telaah wasiat ibunda Aminah di atas, sangatlah jelas bahwa kata-kata itu tidak akan pernah keluar kecuali dari seseorang yang beriman.

Dari pemaparan bukti-bukti diatas, sangat jelas bahwa orang tua Baginda Nabi Saw. termasuk orang-orang yang selamat. Kalaupun ternyata pertimbangan diatas masih kurang kuat, semua orang Islam tidak diperkenankan membicarakan masalah status orang tua Baginda Nabi Saw. Sebab pembahasan ini tidak lepas akan menyakiti Baginda Nabi Saw., sementara siapa saja yang menyakiti Baginda Nabi Saw. bisa menyebabkan kufur. Dan barang siapa yang kufur, maka dia berhak dihukum mati. Wallahu A'lam.[]


-Petikan ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dikutip dari buku Secercah Tinta hal.24

Murottal al-Hushari

Membaca dan mendegarkan al-Qur'an sudah terbukti secara ilmiah dapat membuat jiwa menjadi tenang, semua beban pikiran hilang setelah kita membaca al-Qur'an, semua itu telah di sampaikan oleh Baginda Nabi Saw. lebih dari 14 abad yang lalu sebelum ilmu pengetahuan modern lahir. Al-Qur'an merupakan mukjizat terbesar dari Nabi Muhammad Saw. sampai-sampai Allah Swt. yang akan menjamin keasliannya hingga hari kiamat kelak.

Syekh Mahmud Kholil al-Hushari
Dari jaman dulu orang-orang tua di kampung selalu menekankan kepada putra-putrinya untuk selalu mengaji al-Qur'an setiap habis maghrib ataupun sehabis shubuh, sebelum memulai aktifitas sehari-hari selalu di awali dengan membaca al-Qur'an dengan harapan kehidupan kita lebih baik, lebih bermakna dan lebih berkah lagi.

Disamping menekankan kepada keluarganya untuk senantiasa membaca al-Qur'an, orang-orang di kampung juga sering memperdengarkan bacaan al-Qur'an atau murottal pada momen-momen tertentu, misalnya saat menjelang waktu maghrib, menjelang adzan shubuh, menjelang waktu berbuka puasa dan sebelum acara-acara lainnya seperti acara walimah dan sebagainya.
Diantara murottal yang sangat akrab/ familier dan kerap diputar adalah murottal dari Syekh Mahmud Kholil al-Hushari sang pengarang sholawat tarhim yang sangat legendaris itu. Tentang sejarah beliau bisa Anda baca di artikel Sholawat Tarhim.
Murottal al-Hushari
Dari yang bentuk kaset maupun piringan hitam sering kali diputar pada acara-acara pengajian di kampung-kampung. Kaset atau piringan hitam yang berisi suara emas Syekh Mahmud Kholil al-Hushari direkam oleh Lokananta Solo. Yang masih kami ingat di dalam kaset atau piringan hitam itu berisi adzan, sholawat tarhim, surat al-Hujurot, dan surat ar-Rahman serta ada beberapa surat lain yang dibawakan oleh qori' yang lain, diantaranya surat at-Thoriq dan al-A'la oleh Ustadz Abdul Aziz Muslim, surat al-Hadid oleh Ibu Noor Asyiah Jamil. Untuk mengobati rasa rindu kita terhadap saat-saat indah dulu waktu masih di kampung halaman, maka silahkan Anda download murottal al-Hushari ini. 
Murottal al-Hushari
Anda bisa download langsung 30 juz lewat klik kotak option atau download satu per satu tiap surat lewat klik kotak kecil yang ada di sebelah kan judul atau nomor surat, atau kalau Anda cuma ingin mendengarkan secara online bisa di klik judulnya kemudian klik tanda panah untuk play,tombol panah kanan kiri ditengah adalah untuk navigasi atau untuk melanjutkan ke file berikutnya, atau klik langsung Murottal al-Hushari 30 Juz.
Selamat menikmati suara emas dari Sang Empunya murottal ini.

Murottal al-Hushari 30 Juz





Sebagian isi kami kutip dari Sumber

Tujuh Abdullah: Maha Guru Hadhramaut

Abadillah Sab'ah Yaman
Komplek makam Zanbal, Tarim, Hadhramaut
Di Hadhramaut ada tujuh orang maha guru semuanya bernama Abdullah. Yang pertama adalah al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, al-Habib Abdullah bin Husain Ba al-Faqih, al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Maula Balha, al-Habib Abdullah bin Ali bin Syihab, Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Ba Saudan, Sayyidi Syaikh Abdullah bin Sa'ad bin Sumair al-Hadhrami. Diantara tujuh orang Maha guru yang masyhur itu yang paling masyhur ada tiga orang, yaitu al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, dan Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan.

Kalau akaabir al-auliya' Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan terkenal sebagai ulama yang memiliki derajat yang luar biasa, yang mempunyai madad yang top, madad al-auliya' wa al-madad ahl al-thoriqot. Al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya masyhur karena kepakarannya dalam ilmu hadits, dan kefaqihannya, sehingga beliau mempunyai gelar al-imam halla al-musykalat, Imam yang dapat memecahkan masalah yang rumit. Di zamannya tidak ada satu masalah yang tidak terputuskan, sesulit apapun bisa dipecahkan olehnya. Sehingga masalah apapun yang ada di dunia ditanyakan kepadanya bisa dijawab olehnya. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir adalah Pak Le' (paman) dari Habib Abdullah bin Umar bin Yahya. Ibunya al- Habib Abdullah bin Umar adalah Mbakyu-nya, kakak permpuannya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir inilah pengarang kitab Diwan al-Asy'ari dan Sullamut-Taufiq. Sedangkan karangan al-Habib Abdullah bin Umar adalah al-Fatawi, Sullam Najjah, fatwanya banyak digunakan para Habaib. Cucu-cucunya banyak yang menjadi Mufti, diantaranya al-Habib Ibrohim bin Umar Mufti Ta'iz, yang kemudian menjadi gurunya al-Habib Umar bin Hafidz. Al-Habib Umar bin Hafidz, haditsnya mengambil dari al-Habib Ibrohim bin Umar bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya. Al-Quthbil Ghouts al- Habib Abdullah bin Husain bin Thohir ini maqomnya, atau kedudukan ruhaninya kalau tidak karena haya' (malu), adab yang tinggi kepada kakek  moyangnya al-Faqihil Muqoddam, al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Maka al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir pernah berkata diantaranya: saya tidak rela kalau ada orang yang mempunyai maqom (kedudukan) melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Itu merupakan adab para wali terhadap sesamanya sebagai tarbiyyah (pendidikan) untuk murid-muridnya.

Itu tawadhu'-nya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, sehingga fatwa-fatwannya sangat masyhur dalam bidang fiqih, dalam ilmu hadits, dalam bidang tasawuf lebih-lebih. Sehingga boleh dikata setelah Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad muncul al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Itu seperti cermin, kalau Anda ingin melihat al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, lihatlah al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Kalau Anda ingin melihat tokoh-tokoh fiqih atau hadits; Ibnu Hajar al-'Asqolani atau al-Haitami-nya Hadhramaut yaitu al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba Alawi. Bila Anda ingin tahu orang yang menguasai ilmu tasawuf dan madad at-Thoriqot dan lain-lainnya, lihatlah Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan. Inilah tiga orang hebat di Hadhramaut hingga menjadi narasumber ilmu di Hadhramaut. Al-Habib Abdullah bin Ahmad Basaudan lebih tua dari yang lainnya.

Yang banyak mengambil ilmu dari al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir dan murid al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, diantaranya siapa? al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi, yang kedua sangat populer lagi yaitu al-Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Tholib bin Abdullah bin Tholib al-Atthas. Itu muridnya yang sangat terkenal di Hadhramaut. Al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi mempunyai murid yang terkenal yaitu al-Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi, ayah dari Habib Ali pengarang Simtud Duror. Jadi kalau kita sudah tahu tokoh-tokoh Ahlussunnah waljama'ah, para imam Ahlussunnah waljama'ah, kita ambilkan tiga saja sudah begitu hebatnya. Lalu apakah kita akan menyepelekan terhadap imam-imam sepertinya? Harusnya orang yang menyepelekan itu bercemin dahulu, ngoco disik. Nah, kalau kita sudah tidak percaya pada orang-orang seperti mereka, kita tidak bisa melihat pada mereka, bagaimana akidah kita akan kuat?! Kita menyepelekan para imam?! Inilah diantara kelemaha-kelemahan kita. Karena munculnya ilmu modern, serta ra'yu dan akal dan sebagainya akhirnya kita tergilas oleh itu. Seolah kita mengalami ketergantungan pada akal, koyo kuat-kuato jebule paling keropos, seolah tambah kuat ternyata paling keropos. Inilah yang terjadi sekarang, walaupun tidak semua. Iya kalau standarnya akal paling intelek paling modern di samping kenyataannya paling kuat dalam tauhidnya  dan lain sebagainya. Tapi yang bahaya kalau ternyata paling keropos! Wallahu A'lam. []

Cuplikan ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dipetik dari buku SECERCAH TINTA