Keimanan Kedua Orang Tua Nabi

Kekasih Allah
Ayah dan Ibu Nabi Saw. wafat sebelum Baginda Nabi Saw. diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ini bukan untuk merendahkan Baginda Nabi Saw. Terbukti dengan status yatim pada beliau merupakan suatu penghargaan dari Allah Swt. kepada kedua orang tua beliau. Karena putra mereka langsung berada dalam didikan Allah Swt.

Selain itu jika kedua orang tua Baginda Nabi Saw. masih hidup, niscaya mereka akan hormat dan beriman pada Nabi Saw. Secara keimanan sah-sah saja Nabi memerintah orang tuanya atas nama utusan Allah Swt., namuan secara tidak langsung Baginda Nabi Saw. yang berstatus sebagai anak, memerintah ayah dan ibundanya.

Tertera dalam sebuah hadits, "Baginda Nabi Saw. dilarang memintakan ampunan untuk kedua orang tua beliau." keterangan ini sanadnya dho'if. Demikian juga keterangan yang menyebutkan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw., pernah berziarah ke makam ibunda Aminah, beliau bersabda,"Aku memohon izin kepada Allah Swt. untuk berziarah ke makam ibuku, aku diberi izin. Aku juga memohon izin untuk memanjatkan do'a ampunan untuk ibundaku, akan tetapi aku tidak diberi izin." Dalam riwayat ini juga dikatakan bahwa Baginda Nabi Muhammad Saw. menangis, para sahabatpun juga menangis. Riwayat ini juga dho'if.

Jika hadits ini memang sanadnya sahih, maka perlu dicermati lagi. Karena keterangan itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa ibunda Aminah belum beriman. Namun hadits diatas hanya melarang beliau untuk memanjatkan do'a ampunan untuk ibunda Aminah. Padahal larangan memohonkan ampunan kepada seseorang tidak mesti karena kekufurannya. Fakta telah berbicara bahwa diawal perjalanan Islam, Baginda Nabi Saw. dilarang menyolati seorang jenazah. Karena jenazah itu punya hak adami yang belum dibayar. Singkatnya, setelah ada salah satu sahabat yang bersedia menanggung hutang jenazah tersebut, Baginda Nabi Saw. bersedia mensholatinya. Sudah maklum bahwa inti dalam sholat jenazah adalah memohonkan ampunan untuk jenazah, akan tetapi secara tegas beliau menunjukan bahwa jenazah tersebut tidak disholati hanya karena punya hak adami yang belum terselesaikan, bukan karena kafir. Sehingga tangisan Baginda Nabi Saw. dimakam ibunda Aminah, mungkin karena kesedihan beliau kepada ibunya. Bukan karena ibunda Aminah ada di neraka. Dalam al-Qur'an surat al-Isro' ayat 24 diteegaskan bahwa; "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".

Ayat diatas menegaskan bahwa setiap orang mukallaf, diperintahkan Allah Swt. untuk memohonkan rahmat kepada kedua orang tua, sebagaimana mereka berdua telah memelihara dan mendidik sang anak sewaktu kecil. Sehingga menjadi keharusan bagi anak untuk memohonkan ampunan untuk ibu dan bapaknya, walaupun hanya satu kali saja. Rahmat diatas berarti rahmat Allah Swt. yang abadi, yakni rahmat di akhirat nanti. Bukan hanya rahmat di dunia saja. Dari ketegasan ayat ini apakah Baginda Nabi Saw. dilarang memohonkan ampunan untuk kedua orang tuanya? Tentu akan sangat ganjil jika dijawab,'ya'. Karena beliau memerintahkan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh beliau. Padahal Baginda Nabi Saw. adalah suri tauladan bagi umatnya. Dan apakah beliau dilarang berdo'a dengan do'a yang ada dalam al-Qur'an?!

Status kafir atau tidak, hanya bisa disandangkan kepada seseorang yang hidup pada zaman Baginda Nabi Saw. setelah bi'tsah (diangkat jadi Rosul) dan setelah sampinya dakwah padanya. Setelah Nabi Saw. diangkat sebagai Nabi dan Rosul, mereka yang menerima dakwah beliau dan membenarkan, maka ia termasuk orang yang beriman. Sebaliknya mereka yang tidak beriman, maka merekalah orang-orang yang ingkar, yang dalam istilahnya dikenal dengan orang kafir.

Dari uraian ini sangatlah jelas bahwa kedua orang tua Nabi Saw. bukanlah orang kafir, sebab mereka wafat saat beliau Nabi Saw. masih kecil. Mereka masih dalam masa fatrah, yakni masa kekosongan dari seorang Rosul. Sementara orang-orang yang mati di masa fatrah ini tidak disiksa. Allah Swt berfirman dalam surat al-Isro' ayat 85 yang artinya kurang lebih demikian: "Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rosul." (QS. al-Isro':85)

Ayat diatas menegaskan bahwa Allah Swt, tidak akan menyiksa seseorang sampai mengutus seorang utusan. Sehingga mustahil Allah Swt menyiksa orang-orang yang mati sebelum masa kenabian.

Salah satu permasalahan yang bisa memperkuat argumen diatas adalah anak kecil dari orang kafir tidak disiksa. Lalu apakah mereka yang tidak menjumpai kerosulan Baginda Nabi Saw. akan disiksa?. Jawabnya tentu tidak.

Ibunda Aminah berkata,"...Jika apa yang aku lihat dalam tidurku kebenaran, niscaya engkau kelak akan menjadi seorang utusan Allah, Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Agung. Engkau akan diutus di daerah halal dan daerah haram."

Kalau kita telaah wasiat ibunda Aminah di atas, sangatlah jelas bahwa kata-kata itu tidak akan pernah keluar kecuali dari seseorang yang beriman.

Dari pemaparan bukti-bukti diatas, sangat jelas bahwa orang tua Baginda Nabi Saw. termasuk orang-orang yang selamat. Kalaupun ternyata pertimbangan diatas masih kurang kuat, semua orang Islam tidak diperkenankan membicarakan masalah status orang tua Baginda Nabi Saw. Sebab pembahasan ini tidak lepas akan menyakiti Baginda Nabi Saw., sementara siapa saja yang menyakiti Baginda Nabi Saw. bisa menyebabkan kufur. Dan barang siapa yang kufur, maka dia berhak dihukum mati. Wallahu A'lam.[]


-Petikan ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dikutip dari buku Secercah Tinta hal.24

Kesaksian Allah Swt Atas Keutamaan Sahabat Nabi Ra.

Allah Ta'ala menciptakan dan menjadikan sahabat sebagai manusia pilihan (mukhtar kuluhum). Walaupun di antara mereka terjadi perselisihan, setelah Rosulullah Saw wafat. Dapat dikatakan bahwa semua perselisihan itu untuk menunjukkan bahwa para sahabat itu pilihan Allah, dan mereka mempunyai kedudukan yang istimewa di sisi-Nya, maka untuk memperjelas hal ini saya akan mengambil analogi dari peristiwa Isro' Mi'roj. Keterangan ini mungkin agak musykil, sukar, mungkin karena Anda jarang mendengar.

kalimat tauhid
Analogi Keistimewaan Sahabat dalam Peristiwa Mi'roj

Nabi Musa As adalah diantara sekian Nabi yang mendapat nur Rosulullah Saw. Sedikit banyak, Nabi Musa As telah mendapatkan nur min amalil ubudiyyah, pancaran cahaya karena kesalehan, bukan nur pertama kali Nabi Saw diciptakan oleh Alah Swt.

Dasarnya apa? ketika Rosulullah  Saw menghadap Allah Swt pada peristiwa mi'roj, Nabi langsung diberi tugas sholat lima puluh waktu. Nabi Musa As berulang kali mengusulkan agar jumlah itu dikurangi. Karena umat tidak akan kuat melaksanakannya. Permasalahannya di sini, ketika Nabi Musa As bertemu dengan  Rosulullah  Saw, setelah menerima tugas sholat lima puluh waktu, Rosulullah Saw baru kembali dari bertemu dengan Allah Swt. Pada kesempatan itu Rosulullah Saw membawa nur atsar nazhor ila wajhil kariim, pancaran cahaya ilahiyyah yang didapat pada saat Nabi Saw melihat Allah Swt secara langsung. Begitu Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Musa As yang terpantul dari cahaya barokah nazhor ila wajhil kariim yang pertama kali mendapatkannya adalah Nabi Musa As. Begitu Nabi Musa As mengusulkan umatmu tidak kuat, balik lagi menghadap kepada Allah Swt, Rosulullah Saw membawa tambah nur-Nya. Yang pertama mendapat berkah dari pertemuan Rosulullah Saw dengan Allah  Swt secara terus-menerus tidak lain adalah Nabi Musa As, itu hebatnya. Walaupun Nabi Musa As di gunung Tursina memohon kepada Allah Swt ingin melihat Allah Ta'ala tidak bisa, karena ketika munajat saja, Nabi Musa As hanya melihat wibawanya Allah Ta'ala, Nabi Musa 'kaana shoo `iqoo (QS. al-A'rof: 143), pingsan. Kegagalan Nabi Musa As menatap wajhil kariim di gunung Tursina mendapat ganti, dengan melihat Rosulullah Saw dan mendapat nur min rosulillah atsaron kaamilah, mendapat cahaya Rosulullah Saw secara sempurna, itu hebatnya.

Setelah Nabi Muhammad Saw turun dari langit dan bertemu dengan para sahabat, orang yang mendapat barokah nur nazhor ila wajhil kariim adalah mereka para Sahabat, ini hebatnya. Keterangan ini mungkin baru Anda dengar.

Dengan dasar ini, para sahabat mendapat dua nur, nur atsar min nazhor ila wajhil kariim, yang kedua mendapatkan cahaya Rosulullah Saw setiap hari, mereka duduk, ruku', sujud dan sebagainya, bersama-sama dengan Rosulullah Saw. Walaupun diantara para sahabat ada yang kontroversi, seperti Mu'awiyah contohnya. Dalam pandangan Ahlussunnah Waljamaah, apapun ijtihad Mu'awiyah adalah salah, tapi Ahlussunnah Waljamaah tetap dalam pendirian; tidak ada hak untuk mengkafirkan Mu'awiyah. Ahlussunnah tetap memuliakan kedudukan Mu'awiyah sebagai sahabat Nabi Saw. Wajar, karena para sahabat adalah bukan maksum sebagaimana para Nabi. Para sahabat hanya mendapatkan mahfuzh min Allah, penjagaan dari Allah Ta'ala. Dan mahfuzh dari Allah Ta'ala itu bertingkat, tidak sekaligus semua mendapatkan mahfuzh. Bertingkat, sebagaimana 'ubudiyyah, ibadahnya para sahabat-sahabat itu sendiri.

Walaupun demikian, untuk menutupi kekurangan sahabat yang pada waktu itu terkadang melakukan kekhilafan, keturunan mereka yang diangkat menjadi wali quthb al-ghouts itu banyak. Diantaranya siapa? Umar bin Abdul Aziz masih ada darah dari Mu'awiyah. Cucunya sendiri menjabat sebagai Quth al-Ghouts; Mu'awiyah bin Yazid bin Mu'awiyah. Beliau seorang quth al-ghouts di jamannya. Luar biasa kan! Ini membuktikan kemuliaan maqomah (kedudukan) sahabat. Makanya jangan sembarangan kita ikut-ikutan mencela sahabat.

Sahabat itu, disamping mukhtar min Allah, pilihan dan diangkat langsung oleh Allah, pengangkatan mereka mendapat kesaksian  (asy-syahadah) Baginda Nabi Saw, ikrar keimanan mereka disaksikan oleh Nabi Saw. Kesaksian Rosulullah Saw ini dikuatkan oleh Allah Ta'ala dalam surat al-Fath ayat 29, yang artinya kurang lebih demikian: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoa-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikian sifat-sifat mereka dalam Taurot dan sifat-sifat mereka dalam injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengejakan amal yang saleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar".

Yatala'la'u nuuruhum min atsaris sujud, muka mereka semakin bercahaya karena sujud mereka kepada Allah. Bukan karena jidat terus menempel pada tempat sujud. Allah Ta'ala memberikan nuuuruhum min atsaris sujud dari tawadhu'nya, dari tauhidnya dari keyakinannya, dari makrifatnya, dari sujudnya, bukan min atsaril karpet, bukan dari bekas karpet.

Dari orang-orang yang demikian, sahabat dibagi beberapa macam, ada yang tingkatan auliya`, ada yang hanya tingkatan ulama. Walhasil, setiap individu sahabat pada jaman sahabat pasti ulama, setiap ulama pada jaman sahabat pasti sahabat. Tapi setelah sahabat, at-Tabi'in belum tentu ulama. Walaupun keulamaan sahabat tersebut dalam tingkatnya masing-masing. Wallahu A'lam.[]

Petikan ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dikutip dari buku SECERCAH TINTA

Kesaksian Allah Swt Atas Risalah Dan Keistimewaan Nabi Muhammad Saw (2)

Maha Pemurah
Kesaksian Allaah Ta'ala terhadap kerosulan Nabi Saw, diantaranya surat Yasin ayat 1-4; Yaa Siin, Demi al-Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rosul-rosul, (yang berada) diatas jalan yang lurus. Kesaksian itu turun pada saat Rosulullah Saw merasakan betapa beratnya menundukkan mereka, agar mau beriman. Jadi  bukan beratnya menjadi Rosul seperti halnya menjadi polisi, yang berat bukan statusnya, tapi tugasnya menyadarkan masyarakat, agar tidak berbuat kejahatan yang merugikan dirinya dan masyarakat. Tanggung jawab itu, lebih berat dari status yang disandangnya. Itu baru tingkat bawah, adapun tanggung jawab dan tugas seorang Rosul tentu tidak ada bandingannya.

Kronologi turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul) bermula ketika Rosulullah Saw tengah memikirkan bagaimana caranya supaya orang-orang non muslim beriman atas risalah yang dibawa oleh Rosulullah Saw. Mayoritas dari mereka lari bahkan memusuhi, bukan hanya tidak mau mengakui risalah Rosulullah Saw. Hingga akhirnya untuk membesarkan hati Nabi Saw, Allah Swt menurunkan ayat, Yaasiin, wal qur'aanil hakiim, innaka laminal mursaliin (Wahai Yasin, demi al-Qur'an yang mulia, Sungguh engkau sebenar-benarnya utusan).

Allah Swt membesarkan hati Nabi Saw: 'Andaikata mereka tidak mau mengakui wahai Muhammad bahwa engkau utusan-Ku, Aku yang mengakuimu; engkau adalah utusan-Ku. 'Engkau sebenar-benar utusan.  Sampai pula turun ayat "Ar-rohmaan, 'allamal-qur'aan kholaqol-insaan, 'allamahul-bayaan", ([Tuhan] Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qur'an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara) (QS. ar-Rohman: ayat 1-4). Siapa yang di maksud dalam ayat ini? Tiada lain Rosulullah Saw. Dalam surat al-'Alaq Allah Swt berfirman: Iqro` bismirobbikallaadzii kholaq, kholaqol-insaana min 'alaq, iqro' wa robbukal-akrom (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah) (QS. al-'Alaq: 1-3). Kepada siapakah pertama kali ayat ini ditujukan? Pada Rosulullah Saw. Dalam surat al-Hujurot: 13 Allah Swt berfirman: 'inna akromaakum 'indallaahi atqookum' (Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling taqwa di antara kalian). Siapa yang di maksud dengan akrom dan atqo dalam ayat tersebut? Rosulullah Saw.

Kalau ada orang yang bertanya siapa mahluk yang paling mulia di alam semesta ini? Kita harus menjawab Rosulullah Saw, sebab beliaulah orang yang paling taqwa. Oleh sebab itu, kalau ingin menjadi orang yang takwa, tidak ada cara lain selain mengikuti (ittiba') meniru dan mencontoh keteladanan Sayyidina Muhammad Saw, dijamin dia akan termasuk orang yang takwa.

Saya menerangkan terlebih dahulu fungsi al-Qur'an sebagai saksi kerosulan dan keistimewaan Nabi Muahammad Saw, supaya kita tahu sumber-sumbernya dahulu. Juga agar kita mengakui dan mengetahui bahwa Rosulullah Saw sebagai sumber utama Ahlussunnah wal jamaah adalah orang yang istimewa, yang berbeda dari manusia pada umumnya. Sebab itu pula, kalau ada orang mengatakan atau minta disamakan dengan Rosul Saw, dia adalah orang yang menghayal. Sama dari mana?! Dia tidak mendapat penyaksian (as-Syahadah) dari Allah Swt, sementara Rosulullah Saw disaksikan akhlaknya, susunan anatominya, susunan fisiknya dan sebagainya. Yang menciptakan sendiri yang memberikan kesaksian. Kan lebih akurat! Bagaimana mungkin kita berani menafsirkan Rosulullah Saw manusia biasa.

Lalu bagaimana dengan ayat 110 surat al-Kahfi; "Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya".

Maksud dari ayat itu adalah pesan-pesan kerosulan Nabi Muhammad Saw dapat diterima dengan mudah oleh manusia. Karena Rosulullah Saw sendiri adalah manusia. Memberi kesadaran kepada umat bahwa Allah Ta'ala telah mempermudah manusia untuk menerima ketentuan-Nya melalui utusan dari golongan manusia (li tashilil ummat). Dan itu merupakan salah satu dari sekian rahmat-Nya. Basyar, manusia dalam ayat itu bukan berarti menyamakan Rosulullah Saw dengan kedudukan manusia biasa. Tidak! Qul innamaa ana basyarun mitslukum (QS. al-Kahfi ayat 110), Aku ini seperti kalian; berbicara, bermata, bertelinga, manusia, sama-sama manusia, mitslukum, seperti kalian. Akan tetapi kata mitslukum tidak berarti sama sekali sama atau sama persis.

Dipilihnya Rosul dari kalangan manusia yaitu untuk memudahkan umat. Sebab seandainya Rosul dari kalangan jin, akan menyulitkan manusia, sebab jin tidak terlihat. Kalaupun terlihat manusia pasti lari, karena keduanya memiliki alam dan pola hidup yang berbeda sama sekali. Sedangkan Malaikat tidak terkena kewajiban 'quu anfusakum wa ahliikum naaroo, (QS. at-Tahrim: 6), menjaga  diri dan keluarga dari api neraka. Sebab malaikat tidak punya anak serta tidak punya istri. Lalu siapa yang berperan menjadi utusan atau rosul? Jawabannya adalah manusia. Dan manusia yang menjadi rosul itu ialah Muhammad Saw yang lahir di Mekkah, hijrah ke Madinah, putera  Sayyid Abdullah dan Siti Aminah. Manusia luar biasa, yang karakter, fisik dan perjalanan hidupnya diabadikan dalam al-Qur'an. Wallaahu A'lam bish showaab. []

Ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dikutip dari buku Secercah Tinta

Kesaksian Allah Swt Atas Risalah Dan Keistimewaan Nabi Muhammad Saw (1)

Kesaksian Allah Swt Atas Risalah Dan Keistimewaan Nabi Muhammad Saw (1)

Yang Maha Penyayang
Allah Swt memberikan dua dasar kepada kita, kaum beriman; al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Yang dibawa oleh Jibril As disebut al-Qur'an al-Azhim. Kemudian Sunnah atau Hadits Nabi dibagi menjadi dua, ada yang disebut Hadits ada pula yang disebut Hadits Qudsi. Keduanya banyak digunakan untuk menguatkan kedudukan al-Qur'an. Adapun Hadits Qudsi mempunyai keistimewaan lain, yaitu untuk menunjukkan bagaimana hubungan Rosulullah Saw dengan Allah Swt. Meskipun pada hakikatnya al-Qur'an maupun  Hadits Qudsi keduanya sama-sama menunjukkan keistimewaan  kedudukan Nabi Muhammad Saw di sisi Allah Swt.

Al-Qur'an sendiri mempunyai dua fungsi. Pertama, sebagai dasar-dasar ajaran. Fungsi ini mencakup beberapa hal penting: hukum, yang mencakup masalah perintah, larangan dan lain sebagainya, yang kesemuanya ini terangkum dalam ilmu fiqih; lalu  aqidah atau tauhid; kemudian tasawuf dan terakhir sejarah (tarikh). Kedua sebagai dasar bagi keyakinan akan kebenaran Islam, atau sebagai syahadah (kesaksian, bukti) dari Allah Swt atas kedudukan Rosulullah Saw di sisi-Nya dan atas kebenaran semua yang di bawanya. Al-Qur'an menjadi semacam kesaksian Allah Swt bahwa Nabi Muhammad Saw adalah benar-benar rosul-Nya.

Kesaksian-kesaksian Allah Swt pada Nabi Muhammad Saw tersebut diantaranya: "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rosul dari kaummu sendiri, yang ikut merasakan beratnya penderitaanmu, yang sangat mendambakan (keimanan dan keselamatan) bagimu, serta yang sangat berbelas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS. at-Taubah: 138).

Dalam menugaskan Nabi Saw sebagai utusan, Allah Swt tidak sekedar memerintah, tetapi juga terlebih dahulu memperkenalkan dan menerangkan kedudukan 'sang utusan'. Mulai dari ciri-ciri fisik, karakter, kepribadian dan lain sebagainya, sebagaimana tergambar dalam ayat tersebut. Bukan sekedar memerintah, seperti kebiasaan kita memerintah. Tetapi Allah Ta'ala juga menguatkan kedudukan sang penerima perintah, sebagaimana telah disebutkan dalam al-Qur'an. Jadi, Allah Ta'ala yang menciptakan, menyaksikan, membuktikan kebesaran, keutamaan ciptaan-Nya. Untuk siapa kesaksian Allah Swt tersebut? Tentu untuk umat manusia. Supaya dengan mudah umat dapat menerima ajaran-ajaran yang dibawanya. Kita bisa mengatakan; jika yang Maha Menciptakan saja menyaksikan dan mengakui kebesaran beliau, maka sungguh keterlaluan jika kita, ciptaan-Nya, tidak mau menyaksikan kebesaran Nabi Saw.

Laqod jaa'akum rosuulun min anfusikum, (sungguh telah datang kepada kalian (manusia), rosul, seorang utusan). Utusan yang bagaimana? Dalam ayat tersebut Allah Ta'ala memberi penjelasan sekaligus penekanan dengan mengatakan min anfusikum, yakni dari jenis kalian sendiri, manusia. Meskipun manusia, namun sang Rosul jelas bukan manusia sembarangan. Beliau adalah manusia yang sangat luar biasa.

Lalu apa yang luar biasa atau keistimewaan apa yang dimiliki Rosulullah Saw? Ini terjawab dalam beberapa kalimat selanjutnya. Pertama 'aziizun 'alahi maa 'anittum, bisa merasakan atau mau ikut menanggung derita umat. Kedua, hariishun 'alaikum, memiliki rasa cinta dan harapan yang mendalam kepada umat. Dan ketiga, bil mu`miniina ro`uufur rohiim, memiliki rasa kasih sayang yang dalam pada kaum beriman.

Tiga sifat itulah yang kemudian menopang keberhasilan dakwah Baginda Nabi Saw. Tiga sifat itu juga yang seharusnya dimiliki seorang mubaligh yang ingin sukses dalam berdakwah. Bisa dibilang, keberhasilan seorang mubaligh sangat bergantung kepada seberapa besar rasa 'aziizun 'alaihi maa 'anittum' dalam dirinya. Karena itulah dasar pertama untuk bisa mengajak orang lain atau umat manusia kejalan Allah Swt. Seorang Mubaligh juga harus membawa misi hariishun 'alaikum, dan tentu saja harus memiliki sikap bil mu`miniia ro`uufur rohiim. Dampaknya, bila seorang mubaligh bisa membawa tiga hal ini dalam proses amar ma'ruf nahi munkar yang dilakukannya, maka dia tidak akan mendahulukan hawa nafsu. Perumpamaan bil mu`miniina ro`uufur rohiim sendiri bisa diibaratkan kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Kerasnya sikap orang tua terhadap anak bukan berarti kebencian atau kekejaman. Kerasnya orang tua terhadap anak, walaupun secara lahiriyah benar-benar terlihat keras, tapi didasari dengan rasa kasih sayang.

Seperti halnya orang tua yang menggandeng anaknya saat menyeberang jalan, dimana kendaraan hilir mudik tak beraturan. Apakah orang tua akan membiarkan anaknya berlarian begitu saja? Sekesal apapun suasana hatinya, orang tua pasti akan menarik tangan anaknya dengan keras. Mengapa? Sebab kalau anaknya dibiarkan lari, pasti tertabrak mobil, motor atau kendaraan lain yang hilir mudik di jalan. Tarikan keras yang dilakukan orang tua pada anaknya dalam kondisi seperti itu, bukan karena marah bukan pula karena dendam. Tapi karena rasa sayang. Kalau dendam atau marah karena kesal, tentu anaknya akan dibiarkan begitu saja, itu baru dendam. Misalnya, karena kesal pada seseorang yang sudah beberapa kali diingatkan namun tak juga menurut, akhirnya kita mangambil sikap masa bodoh: mau hidup atau mati terserah.

Sedangkan dalam kamus orang tua terhadap anak tidak ada istilah masa bodoh. Mengapa? Karena ada rasa sayang, sebagaimana yang diistilahkan dalam al-Qur'an dengan ungkapan bil mu`miniina ro`uufur rohiim. Ini sifat Rosul, yang tidak dimiliki oleh siapa pun secara sempurna. Namun jika kita memang sudah berniat melakukan amar ma'ruf nahi munkar, prinsip bil mu`miniina ro`uufur rohim, harus kita pegang betul. Sebab 'nahi munkar' dengan mendahulukan hawa nafsu mana mungkin akan berhasil. Sesaat mungkin dakwah tanpa sikap ro`uf dan rohim akan membuat orang takut. Namun percayalah bahwa itu hanya sesaat. Dalam kasus minuman keras, misalnya, tak jarang proses amar ma'ruf atas kasus ini dititik beratkan kemunkarannya, yakni hanya pada apa yang diminum, khamr (minuman keras) saja. Lalu minumannya dihancurkan, pabriknya dirobohkan. Apakah dengan memberantas minuman keras itu meraka pasti sembuh? Atau spontan dengan itu mereka akan sembuh? Sesaat, orang itu akan takut. Tak lama kebiasaan mabuk-mabukan kambuh lagi. Orangnya yang seharusnya Anda tuju, bukan minuman keras yang dihancurkan atau dihabisi. Bagaimana kita menyembuhkan si peminum, si pecandu itu, itulah tugas kita. Kalau kita tidak penuh kasih sayang dalam menanganinya, tidak mungkin mereka akan sembuh. Dan kalau kita mendahulukan hawa nafsu, mana mungkin mereka akan mengerti kalau disayangi. Ini pula yang banyak menyebabkan dakwah kita tidak berhasil.

Nah, Rosulullah Saw telah dididik betul-betul memiliki tiga sifat itu. Hal yang demikian membuahkan 'wa innaka la'alaa khuluqin 'azhiim', (sungguh engkau Muhammad memiliki pekerti yang sungguh mulia) (QS. al-Qolam: 4). Hadits, "Innamaa bu'itstu li utammima makaarimal akhlaaq" (Aku di utus untuk menyempurnakan budi pekerti dan akhlak yang baik), lebih memperkuat 'wa innaka la'alaa khuluqin 'azhiim, sempurnanya pekerti yang dimiliki oleh Rosulullah Saw.

Bersambung ...

Kesaksian Allah Swt Atas Risalah Dan Keistimewaan Nabi Mauhammad Saw (2)