Metode Dakwah
Metode Dakwah
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari (2)
Metode Dakwah
![]() |
| KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri NU |
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
![]() |
| KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri NU |
![]() |
| Komplek makam Zanbal, Tarim, Hadhramaut |
Kalau akaabir al-auliya' Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan terkenal sebagai ulama yang memiliki derajat yang luar biasa, yang mempunyai madad yang top, madad al-auliya' wa al-madad ahl al-thoriqot. Al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya masyhur karena kepakarannya dalam ilmu hadits, dan kefaqihannya, sehingga beliau mempunyai gelar al-imam halla al-musykalat, Imam yang dapat memecahkan masalah yang rumit. Di zamannya tidak ada satu masalah yang tidak terputuskan, sesulit apapun bisa dipecahkan olehnya. Sehingga masalah apapun yang ada di dunia ditanyakan kepadanya bisa dijawab olehnya. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir adalah Pak Le' (paman) dari Habib Abdullah bin Umar bin Yahya. Ibunya al- Habib Abdullah bin Umar adalah Mbakyu-nya, kakak permpuannya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir inilah pengarang kitab Diwan al-Asy'ari dan Sullamut-Taufiq. Sedangkan karangan al-Habib Abdullah bin Umar adalah al-Fatawi, Sullam Najjah, fatwanya banyak digunakan para Habaib. Cucu-cucunya banyak yang menjadi Mufti, diantaranya al-Habib Ibrohim bin Umar Mufti Ta'iz, yang kemudian menjadi gurunya al-Habib Umar bin Hafidz. Al-Habib Umar bin Hafidz, haditsnya mengambil dari al-Habib Ibrohim bin Umar bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya. Al-Quthbil Ghouts al- Habib Abdullah bin Husain bin Thohir ini maqomnya, atau kedudukan ruhaninya kalau tidak karena haya' (malu), adab yang tinggi kepada kakek moyangnya al-Faqihil Muqoddam, al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Maka al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir pernah berkata diantaranya: saya tidak rela kalau ada orang yang mempunyai maqom (kedudukan) melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Itu merupakan adab para wali terhadap sesamanya sebagai tarbiyyah (pendidikan) untuk murid-muridnya.
Itu tawadhu'-nya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, sehingga fatwa-fatwannya sangat masyhur dalam bidang fiqih, dalam ilmu hadits, dalam bidang tasawuf lebih-lebih. Sehingga boleh dikata setelah Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad muncul al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Itu seperti cermin, kalau Anda ingin melihat al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, lihatlah al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Kalau Anda ingin melihat tokoh-tokoh fiqih atau hadits; Ibnu Hajar al-'Asqolani atau al-Haitami-nya Hadhramaut yaitu al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba Alawi. Bila Anda ingin tahu orang yang menguasai ilmu tasawuf dan madad at-Thoriqot dan lain-lainnya, lihatlah Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan. Inilah tiga orang hebat di Hadhramaut hingga menjadi narasumber ilmu di Hadhramaut. Al-Habib Abdullah bin Ahmad Basaudan lebih tua dari yang lainnya.
Yang banyak mengambil ilmu dari al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir dan murid al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, diantaranya siapa? al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi, yang kedua sangat populer lagi yaitu al-Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Tholib bin Abdullah bin Tholib al-Atthas. Itu muridnya yang sangat terkenal di Hadhramaut. Al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi mempunyai murid yang terkenal yaitu al-Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi, ayah dari Habib Ali pengarang Simtud Duror. Jadi kalau kita sudah tahu tokoh-tokoh Ahlussunnah waljama'ah, para imam Ahlussunnah waljama'ah, kita ambilkan tiga saja sudah begitu hebatnya. Lalu apakah kita akan menyepelekan terhadap imam-imam sepertinya? Harusnya orang yang menyepelekan itu bercemin dahulu, ngoco disik. Nah, kalau kita sudah tidak percaya pada orang-orang seperti mereka, kita tidak bisa melihat pada mereka, bagaimana akidah kita akan kuat?! Kita menyepelekan para imam?! Inilah diantara kelemaha-kelemahan kita. Karena munculnya ilmu modern, serta ra'yu dan akal dan sebagainya akhirnya kita tergilas oleh itu. Seolah kita mengalami ketergantungan pada akal, koyo kuat-kuato jebule paling keropos, seolah tambah kuat ternyata paling keropos. Inilah yang terjadi sekarang, walaupun tidak semua. Iya kalau standarnya akal paling intelek paling modern di samping kenyataannya paling kuat dalam tauhidnya dan lain sebagainya. Tapi yang bahaya kalau ternyata paling keropos! Wallahu A'lam. []
Cuplikan ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dipetik dari buku SECERCAH TINTA Unknown 11:05 PB Kaligung Indonesia
Tujuh Abdullah: Maha Guru Hadhramaut
![]() |
| Komplek makam Zanbal, Tarim, Hadhramaut |
Kalau akaabir al-auliya' Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan terkenal sebagai ulama yang memiliki derajat yang luar biasa, yang mempunyai madad yang top, madad al-auliya' wa al-madad ahl al-thoriqot. Al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya masyhur karena kepakarannya dalam ilmu hadits, dan kefaqihannya, sehingga beliau mempunyai gelar al-imam halla al-musykalat, Imam yang dapat memecahkan masalah yang rumit. Di zamannya tidak ada satu masalah yang tidak terputuskan, sesulit apapun bisa dipecahkan olehnya. Sehingga masalah apapun yang ada di dunia ditanyakan kepadanya bisa dijawab olehnya. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir adalah Pak Le' (paman) dari Habib Abdullah bin Umar bin Yahya. Ibunya al- Habib Abdullah bin Umar adalah Mbakyu-nya, kakak permpuannya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir inilah pengarang kitab Diwan al-Asy'ari dan Sullamut-Taufiq. Sedangkan karangan al-Habib Abdullah bin Umar adalah al-Fatawi, Sullam Najjah, fatwanya banyak digunakan para Habaib. Cucu-cucunya banyak yang menjadi Mufti, diantaranya al-Habib Ibrohim bin Umar Mufti Ta'iz, yang kemudian menjadi gurunya al-Habib Umar bin Hafidz. Al-Habib Umar bin Hafidz, haditsnya mengambil dari al-Habib Ibrohim bin Umar bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya. Al-Quthbil Ghouts al- Habib Abdullah bin Husain bin Thohir ini maqomnya, atau kedudukan ruhaninya kalau tidak karena haya' (malu), adab yang tinggi kepada kakek moyangnya al-Faqihil Muqoddam, al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Maka al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir pernah berkata diantaranya: saya tidak rela kalau ada orang yang mempunyai maqom (kedudukan) melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Itu merupakan adab para wali terhadap sesamanya sebagai tarbiyyah (pendidikan) untuk murid-muridnya.
Itu tawadhu'-nya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, sehingga fatwa-fatwannya sangat masyhur dalam bidang fiqih, dalam ilmu hadits, dalam bidang tasawuf lebih-lebih. Sehingga boleh dikata setelah Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad muncul al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Itu seperti cermin, kalau Anda ingin melihat al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, lihatlah al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Kalau Anda ingin melihat tokoh-tokoh fiqih atau hadits; Ibnu Hajar al-'Asqolani atau al-Haitami-nya Hadhramaut yaitu al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba Alawi. Bila Anda ingin tahu orang yang menguasai ilmu tasawuf dan madad at-Thoriqot dan lain-lainnya, lihatlah Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan. Inilah tiga orang hebat di Hadhramaut hingga menjadi narasumber ilmu di Hadhramaut. Al-Habib Abdullah bin Ahmad Basaudan lebih tua dari yang lainnya.
Yang banyak mengambil ilmu dari al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir dan murid al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, diantaranya siapa? al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi, yang kedua sangat populer lagi yaitu al-Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Tholib bin Abdullah bin Tholib al-Atthas. Itu muridnya yang sangat terkenal di Hadhramaut. Al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi mempunyai murid yang terkenal yaitu al-Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi, ayah dari Habib Ali pengarang Simtud Duror. Jadi kalau kita sudah tahu tokoh-tokoh Ahlussunnah waljama'ah, para imam Ahlussunnah waljama'ah, kita ambilkan tiga saja sudah begitu hebatnya. Lalu apakah kita akan menyepelekan terhadap imam-imam sepertinya? Harusnya orang yang menyepelekan itu bercemin dahulu, ngoco disik. Nah, kalau kita sudah tidak percaya pada orang-orang seperti mereka, kita tidak bisa melihat pada mereka, bagaimana akidah kita akan kuat?! Kita menyepelekan para imam?! Inilah diantara kelemaha-kelemahan kita. Karena munculnya ilmu modern, serta ra'yu dan akal dan sebagainya akhirnya kita tergilas oleh itu. Seolah kita mengalami ketergantungan pada akal, koyo kuat-kuato jebule paling keropos, seolah tambah kuat ternyata paling keropos. Inilah yang terjadi sekarang, walaupun tidak semua. Iya kalau standarnya akal paling intelek paling modern di samping kenyataannya paling kuat dalam tauhidnya dan lain sebagainya. Tapi yang bahaya kalau ternyata paling keropos! Wallahu A'lam. []
Cuplikan ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dipetik dari buku SECERCAH TINTA
Beliau dibaiat langsung oleh ayahnya sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyah an-Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah. Di bawah asuhan beliau, thoriqoh ini berkembang pesat, jamaahnya sangat banyak bukan hanya di nusantara, namun tersebar ke manca negara.
Di dalam memimpin thoriqoh ini, beliau mengambil posisi netral, dalam artian tidak terikat dengan oraganisasi politik manapun, sebab di zaman orde baru tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah sempat terbelah ada Tarekat Rejoso Jombang yang di bawah pimpinan Kyai Musta'in Romli yang merapat ke Golkar, Tarekat Cukir Jombang di bawah pimpinan Kyai Adlan Ali yang merapat ke PPP dan Tarekat Kedinding Lor di bawah asuhan Kyai Asrori memilih posisi netral. Karena sifat netralnya secara politik ini, maka Tarekat Kedinding Lor di bawah asuhan Kyai Asrori memiliki hubungan dan jaringan yang luar biasa banyak dari berbagai kalangan baik dalam negeri maupun manca negara seperti Malaysia, Brunei, Singapura dll. Selain itu, pola dakwahnya yang sederhana, suaranya yang merdu seakan menyentuh relung-relung jiwa yang mendengarnya. Dalam setiap memberikan wejangan kepada jamaahnya, Kyai Asrori selalu menggunakan rujukan Kitab Nasoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani, al-Hikam karya Imam Ibnu 'Atho`illah dan lain-lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas masalah tasawuf, Kyai Asrori juga sering juga menyisipkan masalah fikih sebagai materi penunjang. Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, Kyai Nurul Huda pernah bertutur, "sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua kalangan dan doanya sanggup menggetarkan hati seperti Kyai Asrori". Hal yang sama juga pernah di sampaikan oleh Kyai Abdul Ghofur, seorang ulama asal Pekalongan Jawa Tengah, "Kyai Asrori seorang figur yang belum ada tandingannya, baik ketokohannya maupun kedalaman keilmuan dan spiritualnya.
Thoriqoh yang diajarkan oleh Kyai Asrori memang dirasakan berbeda dengan thoriqoh atau mursyid-mursyid lain pada umumnya. Jika kebanyakan para mursyid setelah membaiat kepada murid baru, untuk amaliyah sehari-hari diserahkan kepada murid yang bersangkutan di tempat masing-masing untuk pengamalannya, tidak demikian dengan Kyai Asrori. Beliau sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan Hijriyah dan kunjungan rutin ke beberapa daerah.
Untuk membina jamaah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah, bahkan Kyai Asrori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk penyebaran dakwahnya, sehingga murid-muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan kendali. Ada lima radio di Jawa Tengah yang di milikinya setiap pagi, siang dan malam selalu memutar ulang dakwahnya Kyai Asrori, yakni Radio Rasika FM dan W FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan dan Radio Suara Tegal di Slawi.
Radio-radio inilah yang setiap harinya mengumandangkan dakwahnya yang sangat khas dan disukai oleh banyak kalangan, meski mereka tidak atau belum berbaiat, bahkan ketemu saja pun belum pernah, toh tidak ada halangan baginya untuk menikmati suara merdu yang selalu mengumandang lewat acara istighotsah di awal buka dan akhir tutup siaran radio. Kemudian juga dapat didengar lewat manaqib rutin mingguan dan bulanan serta acara-acara khusus seperti Haul Akbar yang pernah di adakan di Kota Pekalongan beberapa waktu yang lalu disiarkan langsung oleh tiga radio ternama di Kota Pekalongan dan Batang.
Kini beliau talah menghadap Sang Pencipta, pada 26 Sya'ban 1430 H / 18 Agustus 2009 M, mudah-mudahan Allah Swt menaikkan derajat beliau di akhirat, dan kita yang masih hidup bisa mendapatkan manfaat serta barokah ilmunya, amin. Untuk beliau mari kita mengirimkan hadiah ummul kitab, al-Faatihah...
Anda yang pernah bertemu beliau, atau pernah mendengar suara merdunya, tentu sangat merindukan beliau. Nah, berikut ini kami akan berbagi rekaman istighotsah, maulidur rosul dan ceramah beliau, mudah-mudahan bermanfaat. Silahkan download gratis...
1. Istighotsah
2. Yasin
3. Tahlil
4. Doa Tahlil
5. Maulidur-Rosul
6. Wejangan
7. Qoshidah
8. Folder Ceramah
9. Folder Ceramah
Sebagian isi di kutip dari Sumber
Unknown 12:14 PB Kaligung Indonesia
Mengenang Kyai Ahmad Asrori al-Ishaqi
Kyai Ahmad Asrori al-Ishaqi merupakan putra dari Kyai Utsman al-Ishaqi. Beliau pengasuh Pondok Pesantren al-Fithroh Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren al-Fithroh yang di asuh oleh Kyai Ahmad Asrori al-Ishaqi. Nama al-Ishaqi dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kyai Utsman masih keturunan Suanan Giri.
Beliau dibaiat langsung oleh ayahnya sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyah an-Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah. Di bawah asuhan beliau, thoriqoh ini berkembang pesat, jamaahnya sangat banyak bukan hanya di nusantara, namun tersebar ke manca negara.
Di dalam memimpin thoriqoh ini, beliau mengambil posisi netral, dalam artian tidak terikat dengan oraganisasi politik manapun, sebab di zaman orde baru tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah sempat terbelah ada Tarekat Rejoso Jombang yang di bawah pimpinan Kyai Musta'in Romli yang merapat ke Golkar, Tarekat Cukir Jombang di bawah pimpinan Kyai Adlan Ali yang merapat ke PPP dan Tarekat Kedinding Lor di bawah asuhan Kyai Asrori memilih posisi netral. Karena sifat netralnya secara politik ini, maka Tarekat Kedinding Lor di bawah asuhan Kyai Asrori memiliki hubungan dan jaringan yang luar biasa banyak dari berbagai kalangan baik dalam negeri maupun manca negara seperti Malaysia, Brunei, Singapura dll.
Selain itu, pola dakwahnya yang sederhana, suaranya yang merdu seakan menyentuh relung-relung jiwa yang mendengarnya. Dalam setiap memberikan wejangan kepada jamaahnya, Kyai Asrori selalu menggunakan rujukan Kitab Nasoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani, al-Hikam karya Imam Ibnu 'Atho`illah dan lain-lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas masalah tasawuf, Kyai Asrori juga sering juga menyisipkan masalah fikih sebagai materi penunjang. Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, Kyai Nurul Huda pernah bertutur, "sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua kalangan dan doanya sanggup menggetarkan hati seperti Kyai Asrori". Hal yang sama juga pernah di sampaikan oleh Kyai Abdul Ghofur, seorang ulama asal Pekalongan Jawa Tengah, "Kyai Asrori seorang figur yang belum ada tandingannya, baik ketokohannya maupun kedalaman keilmuan dan spiritualnya.
Thoriqoh yang diajarkan oleh Kyai Asrori memang dirasakan berbeda dengan thoriqoh atau mursyid-mursyid lain pada umumnya. Jika kebanyakan para mursyid setelah membaiat kepada murid baru, untuk amaliyah sehari-hari diserahkan kepada murid yang bersangkutan di tempat masing-masing untuk pengamalannya, tidak demikian dengan Kyai Asrori. Beliau sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan Hijriyah dan kunjungan rutin ke beberapa daerah.
Untuk membina jamaah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah, bahkan Kyai Asrori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk penyebaran dakwahnya, sehingga murid-muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan kendali. Ada lima radio di Jawa Tengah yang di milikinya setiap pagi, siang dan malam selalu memutar ulang dakwahnya Kyai Asrori, yakni Radio Rasika FM dan W FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan dan Radio Suara Tegal di Slawi.
Radio-radio inilah yang setiap harinya mengumandangkan dakwahnya yang sangat khas dan disukai oleh banyak kalangan, meski mereka tidak atau belum berbaiat, bahkan ketemu saja pun belum pernah, toh tidak ada halangan baginya untuk menikmati suara merdu yang selalu mengumandang lewat acara istighotsah di awal buka dan akhir tutup siaran radio. Kemudian juga dapat didengar lewat manaqib rutin mingguan dan bulanan serta acara-acara khusus seperti Haul Akbar yang pernah di adakan di Kota Pekalongan beberapa waktu yang lalu disiarkan langsung oleh tiga radio ternama di Kota Pekalongan dan Batang.
Kini beliau talah menghadap Sang Pencipta, pada 26 Sya'ban 1430 H / 18 Agustus 2009 M, mudah-mudahan Allah Swt menaikkan derajat beliau di akhirat, dan kita yang masih hidup bisa mendapatkan manfaat serta barokah ilmunya, amin. Untuk beliau mari kita mengirimkan hadiah ummul kitab, al-Faatihah...
Anda yang pernah bertemu beliau, atau pernah mendengar suara merdunya, tentu sangat merindukan beliau. Nah, berikut ini kami akan berbagi rekaman istighotsah, maulidur rosul dan ceramah beliau, mudah-mudahan bermanfaat. Silahkan download gratis...
1. Istighotsah
2. Yasin
3. Tahlil
4. Doa Tahlil
5. Maulidur-Rosul
6. Wejangan
7. Qoshidah
8. Folder Ceramah
9. Folder Ceramah
Sebagian isi di kutip dari Sumber



