Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari (2)

Nahdlatul Ulama
Lanjutan dari bag. ke-1

Metode Dakwah

Dalam mengajak umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah SWT, KH. Hasyim Asy’ari menggunakan metode dakwah yang diajarkan oleh Rosulullah SAW dan termaktub dalam kitab suci al-Qur’an (QS. An-Nahl : 125). Pertama, dengan jalan bil Hikmah, artinya berusaha menyusun dan mengatur dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempatnya serta tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT. Kedua, dengan metode Mau’idhatul Hasanah, yakni melalui ungkapan-ungkapan yang mengandung bimbingan, pengasuhan, pendidikan dan keteladanan, sehingga pesan-pesan yang disampaikan bias digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan. Ketiga, dengan jalan al-Mujadalah billati Hiya Ahsan, yakni; dilakukan dengan dialog dan diskusi yang argumentatif dan penuh dengan kesopanan, serta disesuaikan dengan kadar tingkatan pemahaman obyek dakwah yang dihadapi. (Khoirul Huda Basyir ; 2008).

Selain berdakwah didalam Pesantren, KH. Hasyim Asy’ari juga berdakwah diluar pesantren seperti keaktifannya di sebuah organisasi, misalnya keaktifan beliau dalam organisasi Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedangan) yang didirikan pada tahun 1918. Atau beliau juga berinteraksi langsung dengan masyarakat. Salah satu preman yang diinsyafkan dengan sifat arif dan kedermawanan KH. Hasyim Asy’ari melalui dakwahnya adalah Marto Lemu.

KH. Hasyim Asy’ari merupakan sosok ulama yang dermawan. Saking dermawannya, jika ada santri yang sakit dan diketahuinya, maka beliau akan membiayai semua pengobatannya hingga sembuh tanpa meminta ganti rugi sepeserpun.

KH. Hasyim Asy’ari sangat arif dalam menghadapi suatu permasalahan. Beliau tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun beliau juga tidak tinggal diam jika kezaliman merajalela. Kedua konsep ini diamalkan KH. Hasyim Asy’ari sesuai dengan proporsinya.
Ketika Pesantren Tebuireng menghadapi tantangan dari orang-orang jahat yang tidak suka dengan keberadaan dakwah yang sedang dikembangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari, beliau tidak tinggal diam. Sebab, santri-santri beliau sering terkena teror. Bahkan pesantrennya pernah didatangi oleh preman sambil membawa senjata. Sehingga, kejadian ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang harus segera diambil solusinya.

Akhirnya untuk mengatasi problem ini, KH. Hasyim Asy’ari menyuruh beberapa santrinya untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat guna menemui para kiai yang ahli pencak silat agar berkenan mengajari ilmu beladiri kepada santri Tebuireng untuk menghadapi tantangan preman dan penjahat yang mengganggu kesinambungan dakwah KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Kiai-kiai yang diundang ke Pesantren Tebuireng adalah Kiai Sholeh Benda, Kiai Abdullah Pangulangan, Kiai Syamsuri Wanalala dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Setelah murid-murid KH. Hasyim Asy’ari sudah bisa ilmu bela diri, teror yang dilancarkan oleh para penjahat dan preman Tebuireng bisa diminimalisir.

Meslipun teror telah mampu diminimalisir, namun upaya untuk menghentikan dakwah KH. Hasyim Asy’ari tidak berhenti sampai disitu. Mereka membuat cara lain dengan melempar fitnah yang disusupkan di Pesantren Tebuireng. Dari fitnah ini, pemerintah Belanda mendatangi KH. Hasyim Asy’ari dan memberikan konsekuensi yang memojokkan beliau dan santri-santrinya. Dampak dari fitnah ini menyebabakan Pesantren Tebuireng dibakar para preman yang tergabung dari beberapa daerah dan mendapat dukungan dari pemerintah Belanda. Namun dengan penuh kesabaran, KH. Hasyim Asy’ari tidak membalas kejahatan itu dengan kejahatan pula. Akhirnya, Pesantren Tebuireng dibangun kembali oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan para santrinya.

Dalam mengahadapi orang diluar Islam, KH. Hasyim Asy’ari berdiskusi dengan baik dan santun jika mereka mengajak berdiskusi. Beliau pernah berdiskusi dengan Karl von Smith, seorang berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk kepentingan pemerintah Belanda. Setelah banyak berdiskusi dengan KH. Hasyim Asy’ari, Karl von Smith ini argumennya terkalahkan. Akhirnya, Karl von Smith memeluk agama Islam atas jasa KH. Hasyim Asy’ari.

Fiqhu ad-Dakwah (guidance and counseling) atau Fiqih Sosial selalu ditanamkan KH. Hasyim Asy’ari untuk menghadapi subyek yang masuk kategori umat dakwah. Pernah suatu ketika, KH. Hasyim Asy’ari menerima tamu orang Belanda, yaitu Ch. O. Van der Plas yang membawa anjing di Pesantren Tebuireng. Namun, karena Fiqih Sosialnya yang tinggi, KH. Hasyim Asy’ari tidak melarangnya.

Rois Akbar Nahdlatul Ulama’

Sebelum Nahdlatul Ulama lahir, terlebih dahulu ada beberapa  organisasi atau sebuah perkumpulan yang menjadi cikal bakalnya. Seperti lahirnya Taswirul Afkar (Potret Pemikiran) yang didirikan pada tahun 1914, Nahdlatut Wathon (Kebangkitan Tanah Air) yang didirikan pada tahun 1916, dan Komite Hijaz (1925). Perkumpulan-perkumpulan ini tidak bisa lepas dari idenya KH. Wahab Hasbullah yang dikenal sebagai penggerak lahirnya Nahdlatul Ulama.

Ketika KH. Wahab Hasbullah mengungkapkan keinginannya kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi keagamaan, KH. Hasyim Asy’ari tidak langsung mengiyakan. Akan tetapi, KH. Hasyim Asy’ari berfikir dengan sedalam-dalamnya karena beliau takut akan memecah belah umat Islam yang ada di Indonesia. Sebab di waktu itu, di Indonesia sudah ada organisasi keislaman seperti SI (Sarekat Islam) yang didirikan oleh HOS. Cokroaminoto, al-Irsyad yang didirikan oleh Ahmad Surkati dan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Selain organisasi keagamaan ini, juga sudah ada organisasi “Budi Utomo”. Kebanyakan orang yang berada di dalam tubuh Budi Utomo adalah beragama Islam, namun arus pemikirannya bersifat nasionalis (priyayi).

KH. Wahab Hasbullah terus meyakinkan kepada KH. Hasyim Asy’ari akan pentingnya sebuah organisasi keagamaan yang nantinya akan dikendarai oleh kiai-kiai pesantren yang notabene mengamalkan Islam dengan menganut salah satu madzhab empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Pasalnya, organisasi milik Islam Modernis seperti SI, Muhammadiyah dan al-Irsyad itu kebanyakan menyuarakan agar umat Islam tidak bertaklid kepada salah satu madzhab empat. Mereka juga sering mengkritik sebagian amalan yang dikerjakan oleh kelompok Islam Tradisionalis.

Pada tahun 1922 M telah terjadi diskusi ilmiah antara tokoh Islam Modernis dan tokoh Islam Tradisionalis yang tergabung di dalam Kongres al-Islam yang di adakan di Cirebon, Jawa Barat dengan pimpinan HOS. Cokroaminoto yang dibantu oleh H. Agus Salim. Perdebatan ini berlangsung dari tanggal 31 Oktober hingga 2 November 1922 M. Kelompok Islam Modernis diwakili oleh organisasi Muhammadiyah dan al-Irsyad dengan juru bicaranya KH. Ahmad Dahlan dan Syekh Ahmad Surkati. Sedangkan untuk kelompok Islam Tradisionalis diwakili oleh klan pesantren dengan juru bicaranya KH. Wahab Hasbullah dan KH. Raden Asnawi Kudus. Islam modernis menuduh Islam Tradisionalis sebagai biang keladi atas kemunduran Islam sebab mengamalkan Islam dengan memakai metode madzhab tertentu. Sedangkan kelompok Islam Tradisionalis menuding kelompok Islam Modernis ingin membuat madzhab baru dengan menafsirkan al-Qur’an dengan semau mereka sendiri. Diskusi ini berlangsung dengan sengit dan tidak bias menyatukan kedua kubu.

Meskipun Islam Tradisionalis sering dipojokkan oleh Islam Modernis yang sudah mempunyai jam’iyyah yang matang dan terorganisir, namun KH. Hasyim Asy’ari masih belum mau tergesa-gesa dalam menentukan keputusannya untuk mendirikan sebuah organisasi keagamaan. Beliau selalu meminta petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan jalan yang terbaik atas semua ini. Shalat Istikharah selalu dikerjakannya agar Allah SWT menurunkan petunjuk-Nya untuk menghilangkan masalah rumit yang menerpanya.

Keresahan yang dihadapi oleh KH. Hasyim Asy’ari telah dirasakan oleh gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan yang terkenal dengan kewaskitaannya. Syaikhona Kholil tidak tinggal diam atas masalah yang menerpa santri-santrinya, terlebih KH. Hasyim Asy’ari. Akhirnya, Syaikhona Kholil menyuruh salah satu santrinya yang bernama KH. As'ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat dan membacakan surat Thoha ayat 17-23 kepada KH. Hasyim Asy’ari sebagai isyarat bahwa beliau meridhai keinginan KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi keagamaan. Dalam al-Qur’an surat Thoha Allah SWT berfirman, yang artinya kurang lebih demikian:

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkatalah Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya,” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.” Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.” (QS. Thoha : 17-23).

Meskipun sudah mendapatkan petunjuk lewat Syaikhona Kholil Bangkalan berupa tongkat dan bacaan surat Thoha ayat 17-23, KH. Hasyim Asy’ari tak kunjung mendirikan organisasi yang diusulkan oleh KH. Wahab Hasbullah. KH. Hasyim Asy’ari sudah menagkap isyarat lampu hijau bahwa jam’iyyah yang hendak didirikan itu telah mendapat restu dari gurunya. Berkat petunjuk Allah SWT lewat perantara Syaikhona Kholil, beliau dan para kiai lain, terlebih KH. Wahab Hasbullah semakin mantap dan konsepnya pun semakin dimatangkan oleh KH. Wahab Hasbullah selaku  motor organisasi. Akan tetapi, dalam masalah ini, KH. Hasyim Asy’ari masih belum berani mengetuk palu untuk mengiyakan sepenuhnya. Beliau sangat berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara. Terlebih hal ini ada kaitannya dengan persatuan umat Islam. Beliau selalu mengerjakan sholat Istikharoh agar diberikan petunjuk yang terbaik dari Allah SWT.

Karena KH. Hasyim Asy’ari tidak segera merespon makna sepenuhnya dari pesan yang diberikan oleh Syaikhona Kholil, akhirnya Syaikhona Kholil menyuruh kembali KH. As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan pesan kedua yang mengandung isyarat keridhaannya kepada KH. Hasyim Asy’ari dalam mendirikan organisasi keagamaan sebagaimana isyarat yang pertama. Pesan itu berupa tasbih dan perintah agar KH. Hasyim Asy’ari mengamalkan asma’ ya Qohhar dan ya Jabbar. Kedua Asma Allah ini memiliki arti hampir sama. Qohhar berarti Maha Memaksa (kehendak-Nya pasti terjadi, tidak bias dihalang-halangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, akan tetapi sebagian ada orang yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa  dihalangi / dikalahkan oleh siapapun).

Dengan adanya isyarat kedua dari gurunya, KH. Hasyim Asy’ari menjadi semakin mantap untuk mendirikan organisasi keagamaan yang diusulkan oleh KH. Wahab Hasbullah. Namun, KH. Hasyim Asy’ari masih sangat berhati-hati dan semakin mematangkan konsepnya. Hingga akhirnya Syaikhona Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M), organisasi keagamaan ini belum kunjung didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Sebelum tahun wafatnya Syaikhona Kholil, tepatnya pada tahun 1924 telah terjadi peristiwa yang menggemparkan umat Islam di belahan dunia. Yaitu, peristiwa jatuhnya Syarief Husein yang digulingkan oleh Abdul Aziz bin Sa’ud yang merupakan pengikut aliran Wahhabi yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Dengan jatuhnya Syarief Husein, hal ini membuat kekhawatiran bagi umat Islam yang beraliran Sunni. Sebab, kaum Wahhabi ini sangat anti madzhab dan gencar memberantas system bermadzhab. Wahhabi berbeda dengan Sunni yang menyuruh umat Islam untuk mengikuti salah satu madzhab empat dengan alasan supaya didalam memahami hukum Islam tidak terjadi kesalahan yang fatal.
Disamping itu, keresahan umat Islam yang beraliran Sunni juga semakin bertambah dengan jatuhnya Hijaz ke tangan Wahhabi. Pasalnya dengan dalih ingin mengembalikan umat Islam kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka sangat bernafsu menghilangkan tawassul, tabarruk, maulid dan lain sebagainya. Bahkan, ada wacana kalau amalan-amalan ini nantinya akan dilarang di tanah Hijaz yang menjadi kekuasaan Raja Ibnu Sa’ud.

Untuk melebarkan sayap pengaruhnya hingga ke negara-negara muslim lainnya, pada Juni 1926, Ibnu Sa’ud berencana menyelenggarakan Muktamar Khilafah sedunia yang bertempat di kota suci Mekkah yang bertujuan sebagai penerus khilafah yang terputus. Negara Indonesia termasuk salah satu negara yang mendapat kehormatan untuk menghadirinya.

Utusan resmi dari Negara Indonesia yang akan dikirim untuk menghadiri Muktamar Khilafah di kota suci Mekkah adalah HOS. Cokroaminoto (Sarekat Islam) dan KH. Mas Mansur (Muhammadiyah). Kedua tokoh ini akan disertai oleh H. Abdul Karim Amrullah (utusan dari Persatuan Guru Agama Islam), H. Abdullah Ahmad (pendiri Sekolah Adabiyah dari Sumatera Barat) dan H. M. Soeja’. Semua anggota ini berangkat atas nama organisasi CCC (Central Comite Chilafah) yang anggotanya terdiri dari beberapa organisasi resmi.

Mulanya, KH. Wahab Hasbullah ikut daftar yang akan mewakili pesantren, namun akhirnya namanya dicoret karena alasan tidak mewakili organisasi resmi. Kejadian ini menjadi pukulan berat bagi golongan Islam Tradisionalis. Akhirnya, atas restu KH. Hasyim Asy’ari dibentuklah Komite Hijaz sebelum bulan Januari 1926.

Bersambung ke bagian 3.

Dikutip dari buku The Founding Father's Of Nahdlatoel Oelama'



Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari

Pendiri NU
KH. Hasyim Asy'ari, Pendiri NU
Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap dan dilucuti oleh tentara Belanda, para prajuritnya yang dahulu bermarkas di Goa Selarong melarikan diri dan tersebar di berbagai kawasan pulau Jawa. Ada yang ke Semarang, seperti Kiai Umar yang menurunkan Kiai Sholeh Darat. Ada yang ke Rembang, seperti Mbah Saman bin Yaman (asal Madura) yang memperjuangkan Islam di daerah Sarang, Rembang. Ada yang ke daerah Yogyakarta seperti Kiai Hasan Besari yang menurunkan Kiai Munawwir Krapyak. Ada yang ke Jombang seperti Mbah Shihah atau Kiai Abdussalam (Lasem, Rembang) yang menurunkan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbbullah. Kedua ulama yang terakhir ini, nantinya yang akan menjadi tokoh utama dalam berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keislaman terbesar di  Indonesia

Garis Keturunan

Secara genealogis, KH. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan ulama yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, terlebih pulau Jawa. Ayahnya, Kiai Asy’ari masih keturunan Raden Ainul Yaqin atau Sunan Giri. Sedangkan ibunya masih mempunyai hubungan darah dengan Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang pertama. Sehingga, dari kedua nasab ini, bias diambil kesimpulan bahwa KH. Hasyim Asy’ari masih mempunyai jalur keturunan yang bersambung dengan Rosulullah SAW.

Sebelum KH. Hasyim Asy’ari lahir, tanda-tanda yang menunjukkan kelak dirinya akan menjadi orang besar dan berpengaruh telah dirasakan oleh ibunya saat mengandung. Nyai Halimah (Ibu KH. Hasyim Asy’ari) bermimpi melihat rembulan yang jatuh dari langit dan mengenai kandungannya. Mimpi ini ditafsirkan, kelak bayinya akan menjadi orang yang berpengaruh.
KH. Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H / 14 Februari 1871 M di Desa Gedang, Jombang dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Nama kecilnya adalah Muhammad Hasyim yang kemudian kelak dikenal dengan KH. Hasyim Asy’ari atau Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Riwayat Pendidikan

KH. Hasyim Asy’ari pertama kali memperoleh pendidikan ilmu agama dari kedua orang tua dan kakeknya. Ayah dan kakeknya ini merupakan seorang ulama yang menjadi pengasuh pesantren. Ayahnya, Kiai Asy’ari mengasuh Pesantren Keras, sedangkan kakeknya, Kiai Utsman mengasuh Pesantren Gedang. Dari lingkungan yang ala pesantren inilah pelajaran Islam mudah tertanam pada diri KH. Hasyim Asy’ari dengan baik.

Sejak kecil, KH. Hasyim Asy’ari sudah menonjol dengan kecerdasannya. Ketika berumur 13 tahun, beliau sudah pernah disuruh untuk membadali (mengganti) ayahnya dalam mengajar saat ayahnya berhalangan. Meskipun usia penggajar lebih muda dari pada pihak yang diajar, namun hal semacam ini bukanlah perkara yang tabu dalam dunia pesantren karena barometer yang dikenal dalam kamus pesantren adalah kualitas keilmuan, bukan usia.

Menginjak usia ke-15, KH. Hasyim Asy’ari melanjutkan studinya ke beberapa pesantren yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di Jawa Timur, KH. Hasyim Asy’ari belajar di Pesantren Wonokoyo Probolinggo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Kademangan (asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan) dan Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo (asuhan Kiai Ya’kub). Sedangkan di Jawa Tengah, KH. Hasyim Asy’ari pernah nyantri di Pesantren Kiai Sholeh Darat Semarang bersama dengan Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) yang kelak mendirikan organisasi Muhammadiyah. Selain itu, beliau juga pernah mengaji kepada Kiai Syu’aib bin Abdurrozak (buyut KH. Maimun Zubair) di Pesantren Sarang Rembang. (Gus Bahak ; 2002).

Kiai Syu’aib ini dikenal sebagai ulama sufi yang mempunyai banyak karomah. Di waktu itu, Kiai Syu’aib sering dijadikan tempat berlabuh dan bertabarruk untuk mencari ilmu bagi para santri salaf. Biasanya mereka mengaji dengan Kiai Syu’aib ketika di bulan Ramadhan. Istilah belajar di bulan Ramadhan di suatu pesantren tertentu sering di sebut dengan “Ngaji Posonan

Saat menjadi santri, KH. Hasyim Asy’ari selalu menjunjung tinggi dan menghormati ahlul-‘ilmi wa ahlihi (kiai dan keluarganya). Sebab, menghormati ulama dan keluarganya termasuk syarat agar ilmu seseorang bermanfaat dan berkah. Sikap ini tampak ketika cincin Ibu Nyai Asik, istri Syaikhona Kholil Bangkalan terjatuh ke dalam tempat yang penuh dengan tinja (kotoran manusia). Saat santri-santri lainnya di kala itu enggan mengambilkan cincin tersebut karena takut dan merasa jijik dengan kotoran tersebut, KH. Hasyim Asy’ari tidak menghiraukannya. Tanpa berfikir panjang, beliau mengambil dan membersihkannya, kemudian memberikannya kepada Nyai Kholil sehingga istri gurunya tersebut merasa bahagia dan kagum dengan sikap yang di miliki oleh beliau.

Dari budi pekerti mulia yang terukir di dalam jiwa KH. Hasyim Asy’ari disertai dengan keilmuan yang mumpuni, hal ini membuat salah satu  guru beliau menjadi tertarik dengannya dan ingin menjadikannya sebagai seorang menantu. Kiai Ya’qub, pengasuh Pesantren Siwalan Panji ingin menikahkan KH. Hasyim Asy’ari dengan putrinya yang bernama Khadijah. Dengan penuh ketaatan, KH. Hasyim Asy’ari menerima dawuh (titah) Kiai Ya’qub.

Pernikahan bagi KH. Hasyim Asy’ari tidaklah menyurutkan niatnya untuk melanjutkan menuntut ilmu. Atas saran mertuanya, KH. Hasyim Asy’ari dan istrinya berencana menunaikan ibadah haji ke tanah suci sembari belajar di sana kepada ulama-ulama Haramain (Mekkah dan Madinah). Biaya keberangkatan KH. Hasyim Asy’ari dan istrinya ini ditanggung oleh mertuanya.

Selama di Haramain, KH. Hasyim Asy’ari mendapat ujian berat dari Allah SWT. Istri tercintanya meninggal dunia di tanah suci Makkah setelah melahirkan anak pertamanya yang bernama Abdullah. Selang sekitar 40 hari kemudian, Abdullah menyusul ibunya. Kebersamaan KH. Hasyim Asy’ari dengan istrinya selama di Makkah berlangsung kurang lebih selama tujuh bulan dan beliau pulang ke tanah air setelah itu.

Merasa merasa haus dengan keilmuan, dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1893, KH. Hasyim Asy’ari bersama dengan adiknya yang bernama Anis berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu guna mematangkan pendalaman ilmu agamanya di tanah suci. Pada kepergian kedua ini, KH. Hasyim Asy’ari juga diuji Allah SWT dengan ujian yang hamper sama dengan keberangkatan sebelumnya, adik kandung yang menyertainya bernasib sama dengan istrinya dan meninggal dunia di sana.

Meskipun ditinggal wafat oleh adiknya, KH. Hasyim Asy’ari untuk kali ini bertekad ingin lebih lama belajar di Mekkah dibanding kesempatan sebelumnya disaat istrinya meninggal. Beliau bermukim di Mekkah untuk menuntut ilmu sekitar tujuh tahun, bahkan ada yang mengatakan lebih.
Selama di Mekkah, KH. Hasyim Asy’ari mempelajari berbagai macam cabang ilmu agama kepada beberapa ulama yang bermukim di Mekkah. Beliau belajar kepada Syaikh Mahfudz at-Turmusi (ulama asal Termas, Pacitan, Lamongan Jawa Timur), Syaikh Amin al-Atthar, Sayyid Sulthan bin Hasyim, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthar, Syaikh Sayyid Yamani, Sayyid Alawi bin Ahmad as-Segaf, Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Abdullah az-Zawawi, Syaikh Sholeh Bafadhol, Syaikh Sulthan Hasyim Dagastani  dan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (ulama asal Minagkabau, Sumatera Barat) dan lain-lain.

Dari sekian banyak cabang ilmu yang dipelajari oleh KH. Hasyim Asy’ari, ilmu hadits-lah yang paling menonjol dalam dirinya. Sehingga, kelak Pesantren Tebuireng yang diasuhnya lebih terkenal dengan kajian hadits karena karakter pengasuhnya yang ahli hadits. Mengenai ketertarikannya dengan ilmu hadits ini, KH. Hasyim Asy’ari pernah menulis alasannya di sebuah kertas yang terselip di kitab yang ada di perpustakaan pribadinya.

KH. Hasyim Asy’ari mempelajari Hadits Bukhori dan Muslim dari  Syaikh Mahfudz at-Turmusi, seorang pakar Hadits asal Indonesia yang bermukim di Mekkah. Syaikh Mahfudz at-Turmusi ini merupakan generasi terakhir dari 23 generasi yang mendapatkan ijazah langsung dari Imam Bukhori. Dari Syaikh Mahfudz at-Turmusi inilah, beliau kemudian memperoleh ijazah kitab Shohih Bukhori.
Selain mendalami ilmu agama, KH. Hasyim Asy’ari juga sering napak tilas (tabarukan) ke berbagai tempat bersejarah yang pernah didiami oleh Rosulullah SAW. Beliau sering berkhalwat di Goa Hiro, tempat Rosulullah SAW menerima wahyu pertama. Beliau juga sering berziarah ke makam Rosulullah SAW.

Menjelang kembali ke tanah air, KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa orang temannya yang berasal dari berbagai negara beikrar disisi Ka’bah untuk bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan agama Allah SWT. Kisah ini sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Gus Ishom, salah satu cucu beliau, dalam salah satu tulisannya.

Mempelajari Ilmu Tarekat

Selain mempelajari ilmu syari’at, KH. Hasyim Asy’ari juga mempelajari ilmu tarekat. Bahkan, beliau pernah mendapatkan ijazah sanad tarekat Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari gurunya, Syaikh Mahfudz at-Turmusi. Syaikh Mahfudz at-Turmusi ini, mendapatkan ijazah sanad tarekat Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari Syaikh Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani (ulama asal Banten) dan Syaikh Nawawi memperoleh silsilah sanad dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas al-Makki (ulama asal Sambas, Kalimantan Barat). Nama yang terakhir inilah yang telah menggabungkan dua tarekat ini, yakni tarekat Qodiriyyah dan Naqsyabandiyyah menjadi satu, sehingga dikenal menjadi Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah.

Meskipun KH. Hasyim Asy’ari pernah mempelajari ilmu tarekat, namun beliau tidak mengizinkan para santrinya yang masih dalam tahap mempelajari ilmu syari’at untuk mengamalkan ilmu tarekat. Hal ini mungkin disebabkan karena beliau tidak suka jika aktifitas belajar santri-santrinya terganggu dengan alas an mengamalkan tarekat. Beda halnya jika ada santrinya yang sudah dianggap matang ilmu syari’atnya, niscaya tidak akan membuat beliau keberatan untuk memberikan izin kepadanya. Tercatat, ada dua murid KH. Hasyim Asy’ari yang menjadi mursyid tarekat, yaitu Kiai Adlan Ali dan Kiai Musta’in Romli.

Dalam menanggapi masalah tarekat, pada tahun 1947, KH. Hasyim Asy’ari pernah menghadiri Muktamar Tarekat Muktabaroh pertama di Madiun. Beliau tidak memberi penjelasan ketidak ikut sertaannya dalam kelompok tarekat tertentu. Meskipun demikian, KH. Hasyim Asy’ari tidak melarang orang lain jika ingin masuk ke dalam sebuah tarekat.

Membina Rumah Tangga

Selama hidupnya, KH. Hasyim Asy’ari pernah menikah lebih dari sekali. Hal ini menunjukkan kedekatan beliau dengan para kiai karena istri-istri beliau merupakan keturunan seorang ulama atau berdarah biru. Di antara istri-istri KH. Hasyim Asy’ari adalah Nyai Khadijah binti Kiai Ya’qub dari Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Nyai Nafisah binti Kiai Romli dari Pesantren Kemuning, Nyai Nafiqoh binti Kiai Ilyas dari Pesantren Sewulan Madiun, Nyai Masruroh binti Kiai Hasan dari Pesantren Kapurejo Pagu Kediri, dan Nyai Amini binti yang merupakan janda Ma’shum yang tidak lain adalah adik dari beliau sendiri.

Dari pernikahannya ini, KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai 14 orang anak. Mereka adalah Andullah, Hannah, Khoiriyyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid (KH. Wahid Hasyim), Abdul Hafidz (KH. Abdul Choliq Hasyim), Abdul Karim (Akarhanaf), Ubaidillah, Masruroh, M. Yusuf (KH. Yusuf Hasyim / Pak Ud), Abdul Qodir, Khodijah (ibu Gus Ishom Hadziq), dan M. Ya’qub.
KH. Hasyim Asy’ari juga mempunyai lima orang anak tiri. Empat orang dari Nyai Amini, yaitu Syarofah, Ali, Nafisah dan Ulyatun. Sedangkan yang satu dari Nyai Masruroh  yang merupakan janda dari Syaikh Ihsan al-Jampes Kediri, pengarang kitab Sirojut-Tholibin, syarah dari Minhajul-Abidin karya Imam al-Ghozali.

Pesantren Tebuireng

Setelah dirasa cukup menimba ilmu di Makkah, KH. Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air untuk mengamalkan dan menyebarkan ilmunya. Kepulangannya ini disambut gembira oleh Kiai Asy’ari yang mengharapkan nantinya KH. Hasyim Asy’ari akan menjadi penggantinya untuk mengajar di Pesantren Keras. Akan tetapi, KH. Hasyim Asy’ari ingin meluaskan cakrawala keilmuannya. Sebab, bangsa ini masih banyak membutuhkan bimbingan moral. Kalau beliau hanya mengajar di Pesantren Keras atau Gedang saja, niscaya cita-citanya untuk memperluas penyebaran agama Islam kurang begitu luas. Dengan penuh kemantapan, KH. Hasyim Asy’ari bertekad ingin mendirikan pesantren terpisah dari pesantren milik ayah dan kakeknya. Niat KH. Hasyim Asy’ari ini mendapat dukungan dari keluarga, terlebih ayahnya.

Daerah yang menjadi incaran KH. Hasyim Asy’ari bukanlah kawasan yang penduduknya bermoral baik. Beliau lebih suka memilih daerah abangan untuk ‘diputihkan’ dengan syari’at Islam. Akhirnya, pilihan beliau jatuh pada Tebuireng, Jombang yang berdekatan dengan Pabrik Gula Cukir serta dekat dengan rel kereta api.

Daerah Tebuireng ini mulanya penuh dengan gundik, preman dan tukang dadu (judi) serta pernak-perniknya yang selalu gemar melakukan perbuatan maksiat. Hal ini disebabkan karena kedekatannya dengan pabrik gula milik Belanda yang turut meningkatkan perekonomian daerah setempat. Namun, kemajuan itu tentunya bagi orang-orang yang mau bekerja sama dengan penjajah Belanda. Sedangkan warga pribumi yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda, maka perekonomiannya akan ditindas. Banyak lahan yang disewa paksa oleh Belanda dengan upah yang tidak sesuai. Selain itu, moralitas penduduk dicekoki Belanda dengan hiburan-hiburan yang dapat merusak akhlak sehingga kemaksiatan semakin merajalela dimana-mana.

Pada tahun 1317 H / 1899 M, Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dengan dibekali santri sebanyak delapan orang yang diperintah oleh Kiai Asy’ari untuk menyertai putranya. Lambat laun, santri yang asalnya delapan orang ini cepat berkembang pesat hingga mencapai ratusan orang bahkan sampai ribuan. Semua ini tidak lepas dari sosok KH. Hasyim Asy’ari yang mempunyai kepribadian yang luhur dan keilmuan yang tinggi dalam hal agama Islam.

Ketika dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari, Pesantren Tebuireng menjadi pesantren yang terkenal di pulau Jawa sehingga banyak santri-santri yang berdatangan dari berbagai daerah. Kebanyakan dari mereka kelak akan menjadi ulama besar yang berpengaruh dan mengibarkan bendera Nahdlatul Ulama yang nantinya didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari dan para kiai pesantren lainnya. Dari banyaknya santri, Jepang pernah mendata alumni Pesantren Tebuireng di waktu itu sudah mencapai 25.000 orang dan rata-rata menjadi ulama besar. Di antaranya adalah KH. Wahab Hasbullah Tambak Beras, Jombang (Rois ‘Am PBNU pengganti KH. Hasyim Asy’ari), KH. Bisri Syansuri Denanyar, Jombang (Rois ‘Am PBNU pengganti KH. Wahab Hasbullah), KH. Abdul Karim (pendiri Pesantren Lirboyo), KH. Ahmad Shiddiq (Rois ‘Am PBNU pengganti KH. Ali Maksum Krapyak Jogja), dan KH. Ahmad Djazuli Utsman (pendiri PP. Al-Falah Ploso Kediri).

Murid-murid KH. Hasyim Asy’ari kebanyakan adalah para santri yang sudah pernah mondok di suatu pesantren terlebih dahulu. Kedatangan mereka di Pesantren Tebuireng didorong oleh keinginan kuat dalam mematangkan keilmuan di bidang agama agar lebih mendalam. Bahkan, ada salah satu santrinya yang bernama KH. Ahmad bin Syu’aib (kakek KH. Maimoen Zubair) sudah pernah mondok di Mekkah, namun karena masih haus dengan ilmu agama, akhirnya ia belajar lagi kepada KH. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Kepada KH. Ahmad bin Syu’aib, KH. Hasyim Asy’ari pernah memberikan beberapa kitab yang sudah ada sah-sahannya (ada makna dan keterangannya) yang dicatat beliau ketika masih belajar kepada Syaikh Mahhfudz at-Turmusi.

Dalam mendidik para santri, KH. Hasyim Asy’ari menggunakan metode ala Pesantren Salaf dengan memakai standar kitab-kitab yang berliteratur Arab. Metode sorogan, bandongan, wetonan dan musyawarah diterapkan KH. Hasyim Asy’ari kepada para santrinya. KH. Hasyim Asy’ari sangat teguh memegang tradisi salaf, namun beliau juga tidak menolak hal-hal yang baru asalkan tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Hal ini terbukti beliau juga mempunyai koleksi karya Muhammad Abduh yang merupakan salah satu ulama pembaharu Islam yang pemikirannya banyak berseberangan dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.

Di Pesantrennyaa, KH. Hasyim Asy’ari lebih menekankan pelajaran kitab-kitab salaf, baik kitab matan maupun syarahnya, seperti kitab matan Taqrib, Fathul Qorib al-Mujib dan Kitab Fathul Mu’in. Untuk kitab Taqrib atau kitab Fathul Qorib al-Mujib, KH. Hasyim Asy’ari selalu mengulang-ulang jika sudah dikhatamkan. Tradisi seperti ini banyak diikuti oleh santri-santrinya, salah satunya adalah Kiai Ahmad bin Syu’aib yang menjadi pengasuh Pesantren Sarang Rembang.

Selain menggunakan metode salaf, KH. Hasyim Asy’ari juga menggunakan manhaj kekinian seperti memasukkan metode klasikal yang berasal dari usul menantunya, KH. Ma’shum Ali. Sehingga berdirilah Madrasah Salafiyah yang terdiri dari enam kelas. Selain Madrasah Salafiyah, di Pesantren Tebuireng juga ada Madrasah Nidzamiyah yang diusulkan oleh KH. Wahid Hasyim. Madrasah Nidzamiyah ini selain mengajarkan pelajaran agama Islam, juga mengajarkan pelajaran umum seperti bahasa Belanda, Geografi dan Ilmu Menghitung. Namun, Madrasah Nidzamiyah ini tidak berumur panjang karena KH. Hasyim Asy’ari kurang begitu berkenan. Akhhirnya, murid-murid yang ada di Madrasah Nidzamiyah digabungkan ke dalam Madrasah Salafiyah.

Bersambung ke bagian 2.

Dikutip dari buku The Founding Father's Of Nahdlatoel Oelama'





Tujuh Abdullah: Maha Guru Hadhramaut

Abadillah Sab'ah Yaman
Komplek makam Zanbal, Tarim, Hadhramaut
Di Hadhramaut ada tujuh orang maha guru semuanya bernama Abdullah. Yang pertama adalah al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, al-Habib Abdullah bin Husain Ba al-Faqih, al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Maula Balha, al-Habib Abdullah bin Ali bin Syihab, Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Ba Saudan, Sayyidi Syaikh Abdullah bin Sa'ad bin Sumair al-Hadhrami. Diantara tujuh orang Maha guru yang masyhur itu yang paling masyhur ada tiga orang, yaitu al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, dan Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan.

Kalau akaabir al-auliya' Sayyidi Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan terkenal sebagai ulama yang memiliki derajat yang luar biasa, yang mempunyai madad yang top, madad al-auliya' wa al-madad ahl al-thoriqot. Al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya masyhur karena kepakarannya dalam ilmu hadits, dan kefaqihannya, sehingga beliau mempunyai gelar al-imam halla al-musykalat, Imam yang dapat memecahkan masalah yang rumit. Di zamannya tidak ada satu masalah yang tidak terputuskan, sesulit apapun bisa dipecahkan olehnya. Sehingga masalah apapun yang ada di dunia ditanyakan kepadanya bisa dijawab olehnya. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir adalah Pak Le' (paman) dari Habib Abdullah bin Umar bin Yahya. Ibunya al- Habib Abdullah bin Umar adalah Mbakyu-nya, kakak permpuannya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir inilah pengarang kitab Diwan al-Asy'ari dan Sullamut-Taufiq. Sedangkan karangan al-Habib Abdullah bin Umar adalah al-Fatawi, Sullam Najjah, fatwanya banyak digunakan para Habaib. Cucu-cucunya banyak yang menjadi Mufti, diantaranya al-Habib Ibrohim bin Umar Mufti Ta'iz, yang kemudian menjadi gurunya al-Habib Umar bin Hafidz. Al-Habib Umar bin Hafidz, haditsnya mengambil dari al-Habib Ibrohim bin Umar bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya. Al-Quthbil Ghouts al- Habib Abdullah bin Husain bin Thohir ini maqomnya, atau kedudukan ruhaninya kalau tidak karena haya' (malu), adab yang tinggi kepada kakek  moyangnya al-Faqihil Muqoddam, al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Maka al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir pernah berkata diantaranya: saya tidak rela kalau ada orang yang mempunyai maqom (kedudukan) melebihi maqomnya al-Faqihil Muqoddam. Itu merupakan adab para wali terhadap sesamanya sebagai tarbiyyah (pendidikan) untuk murid-muridnya.

Itu tawadhu'-nya al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir, sehingga fatwa-fatwannya sangat masyhur dalam bidang fiqih, dalam ilmu hadits, dalam bidang tasawuf lebih-lebih. Sehingga boleh dikata setelah Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad muncul al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Itu seperti cermin, kalau Anda ingin melihat al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, lihatlah al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir. Kalau Anda ingin melihat tokoh-tokoh fiqih atau hadits; Ibnu Hajar al-'Asqolani atau al-Haitami-nya Hadhramaut yaitu al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba Alawi. Bila Anda ingin tahu orang yang menguasai ilmu tasawuf dan madad at-Thoriqot dan lain-lainnya, lihatlah Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan. Inilah tiga orang hebat di Hadhramaut hingga menjadi narasumber ilmu di Hadhramaut. Al-Habib Abdullah bin Ahmad Basaudan lebih tua dari yang lainnya.

Yang banyak mengambil ilmu dari al-Habib Abdullah bin Husain bin Thohir dan murid al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, diantaranya siapa? al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi, yang kedua sangat populer lagi yaitu al-Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Tholib bin Abdullah bin Tholib al-Atthas. Itu muridnya yang sangat terkenal di Hadhramaut. Al-Habib Idrus bin Umar bin Idrus al-Habsyi mempunyai murid yang terkenal yaitu al-Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi, ayah dari Habib Ali pengarang Simtud Duror. Jadi kalau kita sudah tahu tokoh-tokoh Ahlussunnah waljama'ah, para imam Ahlussunnah waljama'ah, kita ambilkan tiga saja sudah begitu hebatnya. Lalu apakah kita akan menyepelekan terhadap imam-imam sepertinya? Harusnya orang yang menyepelekan itu bercemin dahulu, ngoco disik. Nah, kalau kita sudah tidak percaya pada orang-orang seperti mereka, kita tidak bisa melihat pada mereka, bagaimana akidah kita akan kuat?! Kita menyepelekan para imam?! Inilah diantara kelemaha-kelemahan kita. Karena munculnya ilmu modern, serta ra'yu dan akal dan sebagainya akhirnya kita tergilas oleh itu. Seolah kita mengalami ketergantungan pada akal, koyo kuat-kuato jebule paling keropos, seolah tambah kuat ternyata paling keropos. Inilah yang terjadi sekarang, walaupun tidak semua. Iya kalau standarnya akal paling intelek paling modern di samping kenyataannya paling kuat dalam tauhidnya  dan lain sebagainya. Tapi yang bahaya kalau ternyata paling keropos! Wallahu A'lam. []

Cuplikan ceramah Habib Luthfi bin Yahya, dipetik dari buku SECERCAH TINTA

Mengenang Kyai Ahmad Asrori al-Ishaqi

Kyai Ahmad Asrori al-Ishaqi merupakan putra dari Kyai Utsman al-Ishaqi. Beliau pengasuh Pondok Pesantren al-Fithroh Kedinding Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren al-Fithroh yang di asuh oleh Kyai Ahmad Asrori al-Ishaqi. Nama al-Ishaqi dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kyai Utsman masih keturunan Suanan Giri.

Beliau dibaiat langsung oleh ayahnya sebagai  Mursyid Thoriqoh Qodiriyah an-Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah. Di bawah asuhan beliau, thoriqoh ini berkembang pesat, jamaahnya sangat banyak bukan hanya di nusantara, namun tersebar ke manca negara.

Al-Fithroh Kedinding SurabayaDi dalam memimpin thoriqoh ini, beliau mengambil posisi netral, dalam artian tidak terikat dengan oraganisasi politik manapun, sebab di zaman orde baru tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah sempat terbelah ada Tarekat Rejoso Jombang yang di bawah pimpinan Kyai Musta'in Romli yang merapat ke Golkar, Tarekat Cukir Jombang di bawah pimpinan Kyai Adlan Ali yang merapat ke PPP dan Tarekat Kedinding Lor di bawah asuhan Kyai Asrori memilih posisi netral. Karena sifat netralnya secara politik ini, maka Tarekat Kedinding Lor di bawah asuhan Kyai Asrori memiliki hubungan dan jaringan yang luar biasa banyak dari berbagai kalangan baik dalam negeri maupun manca negara seperti Malaysia, Brunei, Singapura dll.
Selain itu, pola dakwahnya yang sederhana, suaranya yang merdu seakan menyentuh relung-relung jiwa yang mendengarnya. Dalam setiap memberikan wejangan kepada jamaahnya, Kyai Asrori selalu menggunakan rujukan Kitab Nasoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani, al-Hikam karya Imam Ibnu 'Atho`illah dan lain-lain. Selain pengajian yang lebih banyak mengupas masalah tasawuf, Kyai Asrori juga sering juga menyisipkan masalah fikih sebagai materi penunjang. Seorang ulama asal Ploso Kediri Jawa Timur, Kyai Nurul Huda pernah bertutur, "sulit mencari ulama yang cara penyampaiannya sangat mudah dipahami oleh semua kalangan dan doanya sanggup menggetarkan hati seperti Kyai Asrori". Hal yang sama juga pernah di sampaikan oleh Kyai Abdul Ghofur, seorang  ulama asal Pekalongan Jawa Tengah, "Kyai Asrori seorang figur yang belum ada tandingannya, baik ketokohannya maupun kedalaman keilmuan dan spiritualnya.

Thoriqoh yang diajarkan oleh Kyai Asrori memang dirasakan berbeda dengan thoriqoh atau mursyid-mursyid lain pada umumnya. Jika kebanyakan para mursyid setelah membaiat kepada murid baru, untuk amaliyah sehari-hari diserahkan kepada murid yang bersangkutan di tempat masing-masing untuk pengamalannya, tidak demikian dengan Kyai Asrori. Beliau sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah al-Utsmaniyah memiliki tanggung jawab besar, yakni tidak sekedar membaiat kepada murid baru kemudian tugasnya selesai, akan tetapi beliau secara terus menerus melakukan pembinaan secara rutin melalui majelis khususi mingguan, pengajian rutin bulanan setiap Ahad awal bulan Hijriyah dan kunjungan rutin ke beberapa daerah.

Untuk membina jamaah yang telah melakukan baiat, khususnya di wilayah Jawa Tengah, bahkan Kyai Asrori telah menggunakan media elektronik yaitu Radio Siaran untuk penyebaran dakwahnya, sehingga murid-muridnya tidak lagi akan merasa kehilangan kendali. Ada lima radio di Jawa Tengah yang di milikinya setiap pagi, siang dan malam selalu memutar ulang dakwahnya Kyai Asrori, yakni Radio Rasika FM dan W FM berada di Semarang, Radio Citra FM di Kendal, Radio Amarta FM di Pekalongan dan Radio Suara Tegal di Slawi.

Radio-radio inilah yang setiap harinya mengumandangkan dakwahnya yang sangat khas dan disukai oleh banyak kalangan, meski mereka tidak atau belum berbaiat, bahkan ketemu saja pun belum pernah, toh tidak ada halangan baginya untuk menikmati suara merdu yang selalu mengumandang lewat acara istighotsah di awal buka dan akhir tutup siaran radio. Kemudian juga dapat didengar lewat manaqib rutin mingguan dan bulanan serta acara-acara khusus seperti Haul Akbar yang pernah di adakan di Kota Pekalongan beberapa waktu yang lalu disiarkan langsung oleh tiga radio ternama di Kota Pekalongan dan Batang.

Kini beliau talah menghadap Sang Pencipta, pada 26 Sya'ban 1430 H / 18 Agustus 2009 M, mudah-mudahan Allah Swt menaikkan derajat beliau di akhirat, dan kita yang masih hidup bisa mendapatkan manfaat serta barokah ilmunya, amin. Untuk beliau mari kita mengirimkan hadiah ummul kitab, al-Faatihah...

Anda yang pernah bertemu beliau, atau pernah mendengar suara merdunya, tentu sangat merindukan beliau. Nah, berikut ini kami akan berbagi rekaman istighotsah, maulidur rosul dan ceramah beliau, mudah-mudahan bermanfaat. Silahkan download gratis...

1. Istighotsah
2. Yasin
3. Tahlil
4. Doa Tahlil
5. Maulidur-Rosul
6. Wejangan
7. Qoshidah
8. Folder Ceramah
9. Folder Ceramah

Sebagian isi di kutip dari Sumber