Akidah Kaum Sarungan

akidah kaum sarungan, tauhid, kalam, ushuluddin, iman
Akidah Kaum Sarungan
Akidah Kaum Sarungan

Refleksi Mengais Kebeningan Tauhid

Penyusun : Tim Saluran Teologi Lirboyo
Pengantar : KH. DR. Noer Iskandar al-Barsani, MA.
Penerbit : MHM Lirboyo
Ukuran : 15,5x23,5 cm, xvi + 334 hal.
Cetakan ke-3, Jumadil Awwal 1431 H / April 2010

PENGANTAR

"Seiring dengan dinamika perubahan jaman, corak rasional (dalam ilmu tauhid, pen) mulai bergerak maju, sehingga corak intelektualisme mulai menampakkan diri bersama dengan pitisme. Hal ini terlihat dalam karya buku yang disusun oleh siswa tamatan kelas III Aliyah MHM Lirboyo ini. Saya sendiri sangat apresiatif dan salut akan karya ini, dan berharap ia akan menjadi contoh / pilot bagi kemajuan dan dinamika diskursus studi-studi keislaman di pondok pesantren di Indonesia".

~KH. DR. Noer Iskandar al-Barsani, MA.
Mantan Anggota DPR / MPR RI dan Dosen FAI Unisma Malang
Pengasuh Ponpes al-Hidayah Purwokerto

"Menurut kami, buku ini sangat dibutuhkan oleh siapa saja yang ingin mengetahui sejarah perkembangan Islam dari masa ke masa, sehingga dapat menjadi i'tibar pengetuk hati untuk lebih mantap dan lebih percaya atas kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. Disamping itu, buku ini juga berguna untuk mengetahui perkembangan berbagai displin ilmu hingga terklasifikasi menjadi disiplin ilmu aqidah, ilmu tasawuf dan ilmu fiqih, dimana semua disiplin ilmu tersebut sebenarnya sudah ada dan diamalkan pada zaman Rosulullah SAW dan para shahabat, walaupun namanya belum terbentuk secara spesifik seperti sekarang".

~K.M. Azizi Hasbullah
Perumus Lajnah Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur
Dewan Rois LBM P2L dan Pengajar Bidang Tafsir

Dengan membaca buku ini, Anda akan menemukan hal-hal yang mungkin selama ini tidak Anda pikirkan sebelumnya. Sebuah telaah menyeluruh dalam bidang akidah baik dari sisi metodologi, sejarah, epistemologi, analisa faktual, hingga detail-detail persoalan yang berhubungan langsung dengan akidah dan keimanan, akan terurai secara logis dan rasional dalam setiap halaman buku ini.

Selamat Membaca !

-------
Info hubungi:
085742628035
Tlp/SMS/WA

Terima Kasih

Tiga Tokoh Lirboyo

mbah manab, mbah marzuqi, dan mbah mahrus
Mbah Manab, Mbah Marzuqi
dan Mbah Mahrus
TIGA TOKOH LIRBOYO

MBAH MANAB, MBAH MARZUQI, DAN MBAH MAHRUS

KESAN MENDALAM PARA TOKOH ALUMNI TERHADAP TIGA TOKOH LIRBOYO

Penyusun : Tim Formal
Penerbit : JAUSAN Lirboyo
Ukuran : 14x21 cm, xxii + 326 hal.
Cetakan Pertama, Juli 2010
ISBN : 978-602-97114-3-1

KESAN PARA ALUMNI

"Mbah Karim selalu berpesan "agar para santri tidak menjadi hakim". Hakim itu tempatnya di neraka paling bawah. Jadi hakim itu harus adil dan bisa menerapkan hukum Allah. Boleh dikata enggak ada orang yang bisa adil. Sulit. Juga menerapkan hukum Allah. Pesan lainnya, jangan jadi penguasa yang dibayar (menerima gaji, seperti pegawai negeri). Maksudnya kira-kira, "Jadilah kiai di desa kayak saya." Gak usah minta gaji. Gak usah minta pangkat. Gak usah minta honorium. Jadilah pribadi yang tidak ngejar-ngejar pangkat dan harta kekayaan."
~ Prof. Dr. H. Rofi'i (Guru Besar UIN Jakarta)

Meski tak suka politik, ayah saya (Mbah Juki) tidak pernah mencaci maki tokoh-tokoh politik, terutama tokoh dari NU. Walaupun tidak pernah berhubungan, tetapi ayah saya mengamati maksud dari semua itu. Maka dapat ditarik benang merah begini : bahwa walaupun tidak terlibat politik maka jangan menjauhi politik, sebab politik jika dijauhkan akan menimbulkan su'udzon kepada umat.
~ KH. Ahmad Idris Marzuqi (Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri)

Mbah Mahrus itu sangat akrab dengan para pejabat. Siapapun orangnya pasti menyegani Mbah Mahrus. Meski pada dasarnya beliau itu orangnya bertabiat keras. Maka tidak heran jika dari dulu para panglima dan gubernur itu sangat menaruh hormat pada Mbah Mahrus. Jika di suatu daerah ada masalah, maka yang disuruh menyelesaikan dari kalangan ulama itu adalah Mbah Mahrus. Dan anehnya, pemikiran beliau itu yang dipakai.
~ KH. Imam Yahya Mahrus (Rektor Institut Agama Islam Tribakti (IAIT)

Kiai Mahrus punya kiprah penting dalam NU. Beliau Rais Syuriah NU Jawa Timur. Namun beliau tidak pernah meminta jabatan, bahkan tidak mau. Ketika ditawari menjadi Rais Aam PBNU dalam Muktamar di Yogyakarta, beliau pulang ke Lirboyo. Padahal beliau salah satu dari tiga tim Formatur yang menunjuk Gus Dur sebagai ketua umum PBNU. Tiga tim itu adalah Kiai As'ad, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Ali Maksum.
~ Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA (Ketua Umum PBNU)

Selamat membaca !

-------
Info hubungi:
085742628035
Tlp/SMS/WA

Terima Kasih