Al Kahfu Wa Ar Raqiem

Tafsir Huruf Basmallah
Al Kahfu Wa Ar Raqiem
Al Kahfu Wa Ar Raqiem

Mengeja Makna Tersirat Dibalik Lafadz Basmallah

Buku pengantar Insan Kamil
Karya Syekh Abdul Karim Ibnu Ibrahim Al Jilli Ra.

Al Kahfu Wa Ar Raqiem merupakan risalah pembuka (Pendahuluan) lebih jauh dan dalam kajian "Tajalli" dari "Insan Kamil" karya Al Jilli Ra. cucu dari Syech Abdul Qodir Al Jailani Ra. Disajikan secara sistematis dan indah yang lebih dalam memahami Surat Al-Fatihah, khususnya ayat pembuka "Bismillahir-Rahmanir-Rahim" satu persatu huruf dimaknai secara mendalam dan indah luar biasa. Tak patut kita membaca karya Ibnu Arabi, Al Hallaj maupun lainnya sebelum mengenal soko gurunya ini.

Semoga dapat diambil hikmah dari uraian demi uraian yang mendalam ini.

Selamat Membaca!

Data buku
=========
Judul: Al Kahfu Wa Ar Raqiem
Karya: Syekh Abdul Karim bin Ibrahim Al Jilli Ra.
Penerbit: Pustaka Hikmah Perdana
Ukuran: 11x17,5 cm, 100 hlm.
ISBN: 978-979-24-7616-4

Info hubungi:
085742628035
Tlp/SMS/WA

Terima Kasih

Hidayatus Salikin

Syekh Abdusshomad Al Falimbani
Hidayatus Salikin
HIDAYATUS SALIKIN

Karya Syekh Abdus Shomad Al Falimbani
Penerbit : Pustaka Hikmah Perdana
Ukuran : 21 x 15 cm, 256 hlm.
ISBN : 979-97209-1-5
Cetakan ke-3, Agustus 2013

DESKRIPSI

Imam Al-Ghazali, adalah figur yang boleh dikata mayoritas umat Islam mengamini intelektualitasnya. Dalam hal berkarya, bahkan ada yang mensinyalir melebihi angka empat ratus judul buku, baik dalam bentuk karya utuh maupun rasail, dengan sebagian besar menjadi rujukan ummat Islam. Umumnya karya-karya beliau yang monumental adalah yang bercorak sufisme, sebagai potret labuhan pemikirannya setelah mencoba memasuki wilayah kalam, bathiniyah, theologi dan filsafat yang membentur tembok dan tidak menemukan jalan yang mampu mencerahkan bathin dan pemikirannya.

Belakangan kita bisa menjumpai banyak karya-karya beliau yang sudah dialih bahasakan kedalam berbagai bahasa. Para pemikir modern pun berlomba-lomba mencoba memberikan anotasi, mensyarahi, meringkasnya, bahkan ada pula yang memetik sarinya saja.

Buku yang ada ditangan pembaca ini, adalah salah satu dari karya sebagian pemikiran Imam Al-Ghazali dalam bentuk yang terakhir diatas. Dengan mengupas total pemikiran sang maestro dari karyanya Bidayatul Hidayah, penulis buku ini banyak mengupas metode dan sistematika beribadah kepada sang Khaliq maupun cara bermuamalah yang benar di tengah masyarakat. Didalamnya diulas secara apik mulai dari amaliyah nyata, seperti: adab wudhu, shalat dan puasa, diikuti dengan cara menjauhi maksiat, amaliyah hati, keutamaan dzikir dan bertaqartub kepada Allah Swt., seperti: adab orang alim, belajar, berteman dan lain sebagainya.

Menariknya lagi, buku ini ditulis oleh pemikir dan intelektual muslim asli Indonesia, As-Syaikh Abdusshomad Al-Falimbani, sehingga ulasan dan analisisnya sangat pas dan tidak jauh dari kondisi masyarakat kita. Sebuah karya yang membumi untuk muslim Indonesia.

Selamat Membaca!

-------
Info hubungi:
085742628035
Tlp/SMS/WA

Terima Kasih

Insan Kamil

insan kamil, syekh abdul karim bin ibrahim al jilli ra.
Insan Kamil
INSAN KAMIL

IKHTIAR MEMAHAMI KESEJATIAN MANUSIA DENGAN SANG KHALIQ HINGGA AKHIR ZAMAN

Karya Syeikh Abdul Karim ibnu Ibrahim Al Jaili
Penerjemah : Misbah el-Majid, Lc.
Penerbit : Pustaka Hikma Perdana
Ukuran : 16x25 cm, vii + 496 hal
Cetakan Keenam, Nopember 2014
ISBN : 979-99404-9-4

PENGANTAR

Insan Kamil dengan menjadikan "manusia" (mikro-kosmos) sebagai fokus kajian, utamanya Rasulullah Muhammad SAW. sebagai inti pembahasan dan icon kesempurnaan - karya "Insan Kamil fi Ma'rifah al Awahir wa al Awa'il" ini adalah merupakan buah pemikiran asy Syeikh Abdul Karim Ibnu Ibrahim al Jaili, seorang cerdik cendikia muslim agung kelahiran di Jailan distrik di kota Baghdad (Irak). Yang hidup antara tahun 767 H - 832 H atau tahun 1366 M - 1430 M. Al Jaili merupakan anak keturunan keluarga sufi agung Syaikh Abdul Qodir al Jailani.

Al Jaili mengistilahkan citra global 'alam kabir' (makro-kosmos) sedang manusia disebut 'alam saghir' (mikro-kosmos). Dengan demikian sejatinya "manusia sempurna" adalah cerminan manifestasi al Haq pada Maujudaat (segala wujud) dan insan kamil itulah sejatinya citra lahir al Haq di alam realitas ini. Untuk mema'rifahi hakekat segala sesuatu itu menurut al Jaili hanya bisa di lakukan dengan jalan mukasyafah (pengetahuan intuitif), bukan dengan logika.

Al Jaili membagi wujud dengan wujud murni, yaitu inti (dzat) Allah Jallah Jalaalah, dan wujud mulhaq bil Adam (suplemen dari ketiadaan) yaitu inti (dzat)-Nya ghoib al ghoib (gaib dalam kegaiban). Tidak dapat dilihat dari mata kasat, dinalar logika, dijangkau daya persepsi, namun bisa dilihat melalui tajalli-Nya pada segenap maujudaat (segala wujud), sedangkan untuk mengetahui hakekat ma'rifatnya hanaya dengan pengetahuan intuitif (kasyf). Al Jaili membagi tajalli (manifestasi) al Haq itu dalam 4 degri (tingkatan), sebagai media tafakkur untuk menggapai ketersambungan kepada al Haq. Adapun 4 degri (tingkatan) tajalli itu adalah :
  1. Tajalli al Afaal (Manifestasi Perbuatan) al Haq
  2. Tajalli al Asmaa' (Manifestasi Nama-nama) al Haq
  3. Tajalli as Shifah (Manifestasi Sifat-sifat) al Haq
  4. Tajalli Dzat (Manifestasi inti (dzat) al Haq
Pada tingkatan manifestasi inti (dzat) ini kata al Jaili, adalah tajalli "dzat murni", yang wujud kasatnya berupa "Manusia Sempurna" kemudian dzat itu penurunannya terpusatkan alam 3 dimensi : Ahadiyah (ke Esa-an), Hawiyah (ke-Dia-an), dan Inniyah (ke Aku-an), Al Jaili juga menuturkan : "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dalam bentuk citra Diri-Nya". Manusia sempurna juga merupakan cermin kesejatian inti kemanusiaan. Al Haq menciptakan Nabi Muhammad SAW dari Dzat Diri-Nya. Dia menjadikan Nabi Muhammad SAW tajalli kesempurnaan, keperkasaan, dan keindahan Diri-Nya. Kemudian Dia menciptakan rahasia semesta alam dari Cahaya Muhammad tersebut. Demikian pula dengan segenap partikel wujud sejatinya adalah Jauhar al Fuad (entitas tunggal), selaras dengan sabda Rasul SAW : "Kali pertama yang diciptakan Allah adalah al Qalam (pena)". Juga hadits Rasul SAW yang lain : "Kali pertama yang diciptakan Allah adalah Akal". Itulah pendapat & pemikiran Al-Jaili dalam masalah Insan Kamil.

Oleh : Abdullah A. Syihab

Selamat Membaca !

-------
Info hubungi:
085742628035
Tlp/SMS/WA

Terima Kasih

Mustika Pencerah Qalbu

mustika pencerah qalbu, at tanwir fii isqaati at tadbir, syekh ibnu athaillah as sakandariy
Mustika Pencerah Qalbu
MUSTIKA PENCERAH QALBU

At Tanwir Fii Isqaati at Tadbir
Meruntuhkan Rancang Bangun Pengaturan Diri

Karya Syeikh Ibnu Atha'illah as-Sakandariy
Penerjemah : Misbah el-Majid, Lc.
Penerbit : Pustaka Hikmah Perdana
Ukuran : 15,5x21 cm, xx + 317 hal.
Cetakan Pertama, Desember 2013
ISBN : 978-979-24-7635-4

DESKRIPSI

Ajaran Islam menganjurkan setiap ummatnya untuk mendidik nafsu, mengatur jiwa dan qalbu melalui jalan olah rohani, yang demikian itu untuk mewujudkan kesucian lahir batin, sebab hanya suci lahir batinlah pengabdian seorang hamba bisa bermakna di hadapan Allah SWT. Ajaran Qur'ani dan Sunnah nabi-Nya telah menyerukan masalah ini. Karenanya, belajar tasawuf adalah sebuah kemestian bagi mereka yang ingin membersihkan Qalbu dan mensucikan jiwa.

Dengan mendalami ilmu tasawuf kita bisa mempelajari kiat mendidik nafsu, mengolah diri, menjernihkan jiwa dan mendigdayakan hati guna menuju paripurna ibadah dan ubudiyah kepada Allah SWT. Dan diantara khazanah ilmu tasawuf itu ialah kitab at Tanwir fi Isqaat at Tadbir (Mustika Pencerah Qalbu, meruntuhkan Rancang Bangun Pengaturan Diri) karya Syeikh Ibnu Athaillah as Sakandari. Inilah karya yang mendapat apresiasi tinggi dari para alim karena berisi mustika pencerah qalbu dan jiwa yang mengurai kiat mensinergikan kerja lahir batin demi menggapai kesempurnaan ibadah dan keutuhan ubudiyah kepada Allah SWT.

Karya at Tanwir Fii Isqaati at Tadbir oleh Syeikh Ibnu Athaillah ini adalah mustika pemikiran briliant dari pelaku ilmu ketuhanan agung. Karya ini menjelaskan secara komprehensif perihal esensi kedigdayaan jiwa, substansi ibadah ragawi dan ibadah materi atau amal spiritual dan amal sosial. Ibnu Athaillah lebih lanjut mengatakan bahwasanya ada 2 (dua) macam pengaturan yaitu pengaturan yang terpuji dan pengaturan yang tercela.

Karya ini juga mengajarkan kepada kita dalam menerima ketetapan taqdir Allah sepenuh jiwa " Demi tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. an Nisa', 4:65)

Semoga karya ini memberikan motivasi dan melahirkan daya guna bagi para pembaca.

Selamat Membaca !

-------
Info hubungi:
085742628035
Tlp/SMS/WA

Terima Kasih